About these ads

PERSAMAAN BUDAYA SUB ETNIS BATAK SIMALUNGUN
 
Tulisan yang saya publish kali ini adalah bahan dari Trilogi Tulisan Ahu Halak Batak silahkan klik link berikut untuk membaca tulisan sebelumnya Angkola Karo dan Simalungun.

Mangalahathon Horbo salah satu Tradisi di suku Batak

FALSAFAH KEHIDUPAN MASYARAKAT

Falsafah kehidupan masyarakat Simalungun tidak berbeda jauh dengan masyarakat Batak Toba,yang dalam tatanan kehidupan pelaksanaan Adat Istiadat Berlandaskan asas Dalihan Natolu.
Di dalam masyarakat Simalungun disebut :

DINGAT MARTULANG     = Somba marhula hula
SISEI MARSANIA               = Manat mardongan tubu
HOLONG marboru              = Elek marboru

Fungsi Dalihan Natolu dalam masyarakat ialah :
–  TONDONG PANGALOPAN PODAH
–  SANINA PANGALOPAN RIAH
–  BORU PANGALOPAN GOGOH

Di Simalungun dalam pelaksanaan adat sehari – hari dikembangkan menjadi lima bagian yang disebut dengan TOLU SAHUNDULAN LIMA SAODORAN yaitu :

Tondang : Suhut : Sanina : Anak boru Jabu : Boru Sanina

Kedudukan sanina diuraikan menjadi suhut dan sanina, demikian juga kedudukan boru diuraikan menjadi Boru Jabu dan Boru sanina, namun yang lima bagian ini tetap dalam kedudukan Dalihan Natolu.

Kemudian karena daerah Simalungun adalah daerah Parserahan ( pengembangan ) maka dalam satu huta ( Kampung ) berkumpul orang – orang yang berasal dari berbagai daerah asal. Sehingga ada masyarakat yang tidak dapat digolongkan dalam kedudukan dalam Dalihan Natolu, mereka disebut SAHUTA.

Untuk menghormati dan mengikutsertakan mereka dalam pelaksanaan adat maka Dalihan Natolu ditambah dengan Sahuta, yang fungsinya adalah :

  • SAHUTA PANGALAPAN UHUR
  • SUNGKUN MARSAHUTA

TATA  CARA BERMASYARAKAT

Sistem kehidupan dalam masyarakat Simalungun, juga tidak jauh berbeda dengan masyarakat Batak Toba, keramah tamahan terhadap sesama dilukiskan dengan :
– SARI yaitu memperhatikan tamu dan pendamping baru
– SISEI yaitu tegur sapa dengan sopan
– SUNGKUN yaitu bertanya apa tujuan kedatangannya
– surduk yaitu menyodorkan apa yang dapat diberikan.

AKSARA

Aksara  Batak di Simalungun, langsung mempergunakan aksara Batak Toba. Namun di Simalungun  ada beberapa tambahan huruf, untuk menyesuaikan dengan Bahasa Simalungun.

BAHASA

Hata atau bahasa yang dipakai di Simalunguan langsung mempergunakan lebih separuh dari Bahasa Batak Toba.

SENI GONDANG DAN TORTOR

Alat yang dipergunakan dalam godang di Simalungin pada dasarnya bentuk dan penggunaannya sama dengan Batak Toba,Yaitu Ogung, Sarunei dan Gondrang ( Taganing).
Ogung terdiei dari empat buah yaitu Oloan, Ilhutan, dan dua buah mongmongan.

Doa dan Panggora di Simalungan disebut Mongmongan, dan penggunaan kedua mongmongan hanya merupakan panggora karena godang Simalungun tidak mempergunakan irama doal.

Tataganing di Simalungun disebut gonrang sipitupitu karena tataganing terdiri dari tujuh buah, lima buah berfungsi sebagai melodi bersama dengan sarunei dan dua buah lagi berfungsi sebagai gordang yang mengatur tempo irama lagu.

Sarunei di Simalungun pada prinsipnya sama dengan di Toba, hanya sarunei di Simalungun tidak mempergunakan ongar-ongar, namun fungsinya sama dengan gondang Toba yaitu menyanyikan melodi dari setiap irama lagu dalam gondang.

Tortor di Simalungun pada prinsipnya sama dengan diToba yaitu gerakan badan dan tangan yang di atur sepadan dengan irama gondang yaitu gerakan dari atas ke bawah yang disebut ondok dan tangan hanya berada didepan badan dengan rasa hormat dan sopan karena gondang dan tortor mengandung nilai spiritual.

HAK TANAH ULAYAT

Di Simalungun pembagian tanah ulayat tidak lagi dengan system Bius, karena daerah Simalungun adalah daerah perserahan (Pengembangan), maka hak penguasaan tanah didasarkan kepada siapa atau marga apa penggarap pertama, dan sekaligus daerah itu menjadi wilayah kerajaan bagi orang atau marga penggarap pertama tersebut.

MARGA MARGA DI SIMALUNGUN DAN PENGELOMPOKANNYA

Orang atau marga penggarap pertama di Simalungun ada empat yaitu marga : DAMANIK, PURBA, SARAGIH, DAN SINAGA.
Bagi orang-orang  yang datang kemudian ke daerah Simalungun agar mereka bias mendapatkan tanah pertanian,mereka diharuskan bergabung dan memakai penggarap pertamam yang sekaligus yang menjadi marga raja di wilayah itu.

Jadi di Simalungun hanya ada empat kelompok marga yaitu

  1. DAMANIK   : adalah penggabungan dari marga-marga keturunan Guru Tatea Bulan (Namarata)
  2. PURBA          : adalah penggabungan dari marga-marga keturunan Toga Simamora dari Batak
  3. SARAGIH     : adalah penggabungan dari marga-marga keturunan Naimbaton ( Parna) dari Batak Toba
  4. SINAGA        : adalah penggabungan dari marga-marga keturunan Toga Sinaga Batak Toba.

KESIMPULAN

Dengan mempertimbangkan data- data yang ada dan berlaku dalam masyarakat Simalungun yaitu :

  1. Seluruh marga- marga yang ada di Simalungun bersal dari marga – marga induk yang ada di Batak Toba.
  2. Falsafah kehidupan masyarakat Simalungun berazaskan Dalihan Naatulo yang sama dengan Batak Toba
  3. Masyarakat Simalungun menganut garis keteurunan ayah sama dengan Batak Toba
  4. Masyarakat simalungun seluruhnya mmepunyai identitas Marga sama dengan Batak Toba
  5. Masyarakat Simalungun menggunakan aksara Batak yaitu Surat Si Siasia dengan Batak Toba
  6. Bahasa  Simalungun menggunakan lebih separoh langsung dari Bahasa Batak Toba
  7. Gondang dan Tortor Simalungun pada dasarnya sama bentuk dan penggunaannya dengan gondang dan Tortor Batak Toba
  8. Masyarakat Simalungun mempunyai symbol bendera tiga warnah yaitu dari Artia sampai Ringkar serta perhitungan bulan dari Sipaha Samuludua sama dengan Batak Toba.

Berdasarkan data- data tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa Masyarakat Simalungun bisa juga dikatakan adalah orang-orang yang berasal dari Batak Toba, maka Simalungun juga adalah Batak yang berasal dari Sianjur Mulamula.

About these ads