About these ads

Saya sering bertemu dengan orang Batak di perantauan . baik masih di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Amerika, Australia ( pokoknya di luat portibion).

Beberapa hal yang saya sayangkan atau cenderung kasihan, adalah ketika bertemu dengan orang Batak yang tidak mengerti atau tidak tahu sama sekali mengenai Tarombo ( Family Tree) silsilah.

Ada beberapa seppupu jauh saya, yang bangga akan anak-anaknya tidak punya marga di paspor.
Katanya, nanti peluang untuk dapat pekerjaan yangbaik lebih banyak.

Mungkin bisa demikian, karena ketika saya melamar pekerjaan di Jakarta tahun 70an akhir, saya duga karena saya orang Batak , sehingga jawaban setelah interview ” nanti kita hubungi , ya dek!”

Saya tidak kecewa dengan kejadian itu, karena saya yakin, saya dilahirkan sebagai orang Batak ( bukan pilihan saya), ada purpose, ada maksudnya.

Jadi marilah kita menyikapi, perlakuan orang atau anggapan orang yang mungkin cenderung , menganggap Batak itu sebagai orang yang tidak dapat dibuat panutan atau tidak ada integritas.

Jadi bukan karena batak, tetapi karena individunya sendiri yang tidak beres.
MAri kita tunjukkan, kita adalah manusia yang oerduli dengan manusia lainya, dengan tetap melakukan kebaikan,tanpa memandang siapa orang tsb. Karena dampak dari melakukan kebaikan adalah kebaikanuntuk kita sendiri, dan keturunan kita juga. jadi berbuat baiklah senantiasa.
Horas..Horas..Horas
ini kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuna, karangan Mpu Tantular tempo kerajaan Majapahit, “Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa…”

yang artinya: Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda, Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal,Terpecah belahlah itu, tetapi satu jualah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

jadi, jelas-lah!!! “Bagaimana Sifat Kita Kepada Satu Suku Kita Tapi Agama Berbeda (baik aliran kepercayaan ataupun keyakinan-rev)”

kalau versi Amerika Serikat (Latin), “E Pluribus Unum”
emua perbedaan tapi satu tujuan, cuma caranya yang berbeda…
kata umat Islam, umat Islam menyembah ALLAH…
kata umat Kristen, umat Kristen menyembah ALLAH…
adakah tujuan yang berbeda?

Jangan ada yang terpancing…
Jangan jadikan SARA sebagai pemecah persatuan Bangsa Indonesia khususnya orang BATAK……!!!

Kalau dulu dimana ada orang batak pasti dicariin kemanapun jauhnya, tapi sekarang kebudayaan Batak sendiri dah pada luntur..
Ex..
Kalau ada teman kita yang ngasih tahu sama kita “Disana ada marga sagala…”, banyak yang bilang “Sagala darimana dia?” kalo bukan merasa keluarganya pasti dibilang “BUKAN SAGALA KAMI…” padahal semua sagala 1 Oppung yaitu SAGALA RAJA…

itulah sebabnya saya bangga dengan adanya community ini…
semoga kita semua dapat bersatu tanpa ada perbedaan marga, agama, pekerjaan, golongan dll…
terutama jangan pernah melihat hamoraan…

SUKSES ORANG BATAK KEBANGGAN BANGSA BATAK…

HORASSSS…………

About these ads