About these ads

Berawal dari kekaguman mengenai karakter bangsa jepang dan banyak negara lain, Jepang dengan semangat Bushidonya, India dengan Swadesinya, China dengan Taonya, Inggris dengan empirisismenya, Perancis dengan rasionalismenya, dsb.

Batak dan Dalihan Natolu

kalau ditelisik ada dua sumber epistemologis way of life, satu adalah adat-istiadat/kebudayaan, dan kedua adalah filsafat.

adat-istiadat/budaya seperti jepang dengan bushidonya, dari kebudayaan itu lalu dicari filsafatnya lalu dari situ menjadi tinjauan/pedoman atas semua aspek kehidupan mereka.

sedangkan yang dari filsafat seperti di Inggris, dari sana akan filsafat tsb menjadi tinjauan/pedoman atas semua aspek kehidupan mereka lalu dari hasil aspek-aspek kehidupan itu timbullah hasil yang menjadi kebudayaan.

berbeda halnya dengan Pancasila yang merupakan sesuatu yang utopis bagi saya karena berusaha memasukkan segala ideologi yang ada, cenderung merupakan hasil kompromi politik ketimbang hasil pemikiran, kalaupun hasil pemikiran condong merupakan pemikiran segelintir kelompok, dan terlalu luas cakupan serta terlalu fleksibel hingga Pancasila ini selalu dipelintir oleh golongan-golongan tertentu.

kita sebagai bangsa yang mempunyai nilai adat-istiadat/budaya perlu membangun sistem filsafat yang sesuai dengan bangsa kita, sistem filsafat yang dapat dipergunakan dalam tatanan praktis serta bertujuan untuk karakterisasi generasi berikutnya. Sebuah sistem filsafat yang berasal dari budaya kita, budaya yang belum tercemar ajaran lutheran maupun ajaran sunni atau syiah, terlebuh lagi ajaran pragmatisme amerika. Kita mungkin dapat mencari kembali, meredefinisi kembali kebatakan kita.
Oleh Karena itu kita dapat memulai Kecintaan kita terhadap Budaya Batak kita dari “Dalihan Na Tolu” sebagai sistem kekerabatan kita.

Horas…

About these ads