About these ads

Demo Warga “Turunkan Harga Sinamot”

HORAS

Ada sebuah cerita…
Sejak lahir saya sudah batak. Inong pangintubu juga batak. Yang pasti ompung juga batak kan?
Jadi darah yang mengalir di tubuh saya itu darah batak total yaitu darah mudar… bukan darah biru.

Saya bangga jadi orang batak dan menghormati budaya batak, termasuk acara-acara adat yang tidak bisa dikatakan sederhana seperti pesta pernikahan di adat batak. Kita semua pasti tahu betapa ribet (aha do tahe bahasa batakna) biaya pesta di adat batak dan mahal.

Ternyata untuk benar-benar jadi batak itu mahal ya?

Harus bisa ngasih makan “sahuta”, belum lagi sinamot yang harus dibayar, tapi tak ada istilah bayar sinamot dengan “timbang hosa” kan? karena kalau nikah tak “diadati” berarti dia tidak bisa memenuhi hak dan kewajibannya sebagai Orang Batak (mohon dikoreksi kalau salah).

Lain lagi ceritanya kalau menikah dengan si A Seng atau si Sumarno or si bontar mata…asa sangap inna…ingkon ibahen do margana.. alai mambahen marga on tong do arga ate…(supaya terhormat katanya…harus dibuat marganya..tetapi membuat marga pun harganya mahal…red)

Memang katanya bisa bayar adat belakangan setelah ada rejeki. Terus kalau rejekinya cukup-cukupan gimana?
Karena pesta adat kan bisa sampai puluhan juta. Belum lagi pemenuhan biaya hidup yang semakin tinggi.
Jadi boha nama nasibni halak batak na so tarpatupa ibana songoni. Ingkon tersisih ma halaki di paradaton?
On ma sungkun-sungkun hu tu loloan…

(jadi bagaimana nasib orang batak yang tidak bisa memenuhi adat ini? apa mereka harus tersisih dari adat?..r ed… 😉

Walaupun itu adalah uniknya org batak,,tp dibalik keunikan nya sampai membuat pusing para pemuda batak bahkan ada yang mempunyai harapan sedikit demi sedikit adat batak harus ada yg di revisi oleh kita sebagai penerus keturunan harapan yang paling masuk akal adalah TURUNKAN HARGA SINAMOT…. 😀 Tumagon ma dang jd mangoli molo sinamot ni boru rajai sumalin arganai
tapi dibeberapa daerah ini bisa dijadikan kelebihan karena sifat ini melatih sikap tolong menolong ima sada kelebihan bangso batak’i. so alani arta,alai sifat saling tolong menolong, apalagi na mardongan tubu, adong istilah na ” utang ku, utang ni dongan tubu ku”

Oleh karena itu kita harus menjunjung adat “ADAT” itu,sebagai orang BATAK penting & harus tetapterpelihara dandilestarikan dari sejak lahir s/d ajal tiba,adat itu akan selalu menyertai kita. Mmg tdk bs disangkal, proses ADAT BATAK itu,berat di biaya,wkt, & energi. Tp,itu lh yg sdh di wariskn dr pd nenek moyang kita org BATAK. Sy kira, tiada yg tersisihkn dr ruang lingkup “paradaton” hny krn ketidak mampuan ekonomi.adong adat na balga di akka na puna sa.adong na gelleng di na hurang mampu. Cth simpel, kt blh mengurangi jlh undangan&menu makanan. klu hiburan, ga ptg x lh.yg penting unsur Tulang & hula2, boru,bere,parsahutaon hadir di acara tsb mangaradoti ulaon i

banyak sikap sikap lainnya terkait dengan hal ini sebagai contoh
adong do tahe haduan sungkun2 di surgoi ?? ” sipolan…ngamaradat ho ?…” Nah..kalau enggak ada yo wes..enggak usah pusingin…bagi yg blom brani mangallap boru ni raja i….karena Harga si namot masih blom didiscon…
bikin boru ni raja di Cinta sampai ke sumsum tulangnya…jd biar harga sinamot enggak tinggi kali…heheheh…ini hanya candaan loh. Karena kurang lebih Pada dasarnya adat (termasuk soal sinamot) itu buatan manusia, memang semuanya ada tujuan yang baik dibalik itu, tp saat ini sinamot jadi salah satu penghalang untuk sepasang orang batak yang ingin menikah ketika calon mempelai laki2 tidak sanggup memenuhi permintaan sinamot dari “keluarga” ceweknya.. bahkan sampe ada pernah kudengar anekdot spt ini “Tingkat Pendidikan dan Jenis Pekerjaan Menentukan harga Sinamot seorang Perempuan Batak”

Kalau sudah sepakat (dos roha) kedua belah pihak sudah seharusnyalah adat itu bisa berjalan. di samping itu spt yang dikatakan namboru Evelyne Boru Sagala td, kalo udah “Marsigorgor”nya holong si cewek sama cowok itu, pasti jadi juga kok tanpa sinamot bercanda lagi
😀

About these ads