About these ads

Setelah mengenal Partuturan dan Panjouhon dalam Adat Batak kali ini kita akan membahas mengenai sistem kekerabatan adat batak yang telah melegenda yaitu Dalihan Na Tolu Secara umum kita mengetahui bahwa Dalihan Natolu (DNT) adalah struktur dalam tata hubungan sosial masyarakat Batak yang didasarkan pada hubungan daerah atau keturunan (genealogis).
Secara Esensi yang banyak ditulis Dalihan Natolu terdiri dari tiga stuktur, stuktur ini sendiri  diungkapkan dari sebuah sajak orang batak yaitu:

Somba marhula-hula (Tulang), Elek marboru (Boru), dan Manat mardongan tubu (Semarga)

sajak ini menyatakan bahwa setiap darah orang batak memiliki hak dan kewajiban terstruktur dan bersifat tetap. Somba Marhula-hula merupakan istilah pertama yang bermakna bahwa kita harus menghormati hula-hula kita yang merupakan saudara laki-laki dari pihak istri (Saudara laki-laki dari seorang perempuan). Istilah kedua adalah Elek Marboru yang bermakna kelemah-lembutan dalam bersikap terhadap boru perempuan yang merupakan saudara perempuan kita. Dan istilah ketiga adalah Manat Mardongan Tubu yang berarti bahwa kita harus akur terhadap saudara yang semarga dengan kita.

Secara teoritis masyarakat Batak adalah masyarakat yang mempunyai garis keturunan patrilinea yang menganggap keturunan laki-laki sebagai penerus, membagi dua hubungan itu menjadi hubungan keturunan laki-laki (kindship relations) dan hubungan keturunan perempuan (affinity relations).

Kelompok laki-laki dari satu garis keturunan disebut Dongan Sabutuha dan kelompok perempuan dari garis keturunan yang sama (kawin dengan laki-laki dari marga lain-exogam) disebut boru. Bagi kelompok boru sebagai pihak penerima istri, seluruh keluarga marga istrinya adalah hulahula, sehingga mardongan sabutuha adalah kinship relation sedangkan marhulahula serta marboru adalah affinity relation (BH Harahap, 1987:106).

Dalam affinity relations atau hubungan affinal antara kelompok hulahula dan kelompok boru secara timbal balik itulah sebenarnya merupakan tatanan inti kekerabatan adat batak yaitu Dalihan Natolu. Tata tertib atau tatakarama saling hubungan di antar keduanya juga diatur dengan elek marboru bagi kelompok boru terhadap hulahula-nya.

Secara tradisional masyarakat Batak menghubungkan sikap somba marhulahula dengan pandangan yang menganggap:

  1. Hulahula mata ni ari binsar, bagaikan matahari terbit yang menyinari dan memberi kehangatan bagi alam raya.
  2. Hulahula do Debata na niida, bagaikan Tuhan yang terlihat di dunia ini.

Dalam hubungan affinal itu, hulahula dianggap sebagai pemberi doa restu bagi boru-nya, yaitu doa yang dialamatkan kepada Allah di surga, memohon agar Tuhan (Debata) mencurahkan anugerah dan berkat yang berkelimpahan, memberikan kehidupan yang tenteram dan sejahtera kepada seluruh keluarga boru-nya. Hal itu tergambar dengan jelas dalam ungkapan pantun yang berbunyi :

“Obuk dojambulan na nidandan bahen samara; tangiang ni hulahula marsundut-sundut soada mara”

Artinya dari ungkapan ini adalah, Doa hulahula terhadap boru-nya akan selalu melindungi mereka dari malapetaka. (M Sihombing, 1985:76).

Dasar kekerabatan inilah yang menampakkan dengan jelas hingga sekarang dalam hidup orang batak dimanapun mereka berada—Pergaulan hidup sehari-hari menunjukkan secara nyata bahwa kelompok boru selalu bersikap hormat terhadap hulahula. Dan sebaliknya, kelompok hulahula selalu bersikap persuasif terhadap boru-nya. Dengan pengertian lain, saling hubungan di antara mereka selalu berlangsung dalam sikap saling menghormati dan saling menghargai. Dan sikap-sikap terhormat dalam tingkat sopan-santun yang tinggi itu nyata melalui sapaan-sapaan yang penuh penghormatan dalam tutur kata yang baik.

“Apa marganya (boru apa ito)?”. Pertanyaan itu menjadi pembicaraan penting bagi setiap orang batak ketika bertemu sesamanya. Ini semua mau menyatakan dengan jelas bahwa orang batak memiliki inters dan habit bersaudara atau membangun semangat kekluargaan. Mungkin ini bias dikatakan cukup subjektif. Namun inilah yang kerap kita jumpai dan alami serta lakukan sebagai orang yang lahir dan besar dalam budaya batak.

Singkatnya apa yang diatur dalam DNT diwujudnyatakan dalam hubungan kekerabatan yang lebih konkrit dalam tutur panggilan. Itulah yang nampak tergambar dari system kekerabatan (partuturan) suku batak.

Berikut saya coba untuk memaparkan ragam hubungan kekerabatan yang tampak dalam panggilan kepada pihak lain menurut adat dan kebiasaan batak (partuturan) :

Amang mangulahi : oppung dari bapak
Inang mangulahi : oppung boru dari bapak

Ompung : ayah dari bapak
Ompung boru : ibu dari bapak

Ompung bao : ayah dari mamak
Ompung boru : ibu dari mamak

Amang/among : bapak / orang tua laki-laki
Inang/inong : ibu / orang tua perempuan

Amang simatua (amang) : bapak / orang tua laki-laki dari isteri
Inang simatua (inang) : ibu / orang tua perempuan dari isteri

Akkang : abang, kakak (untuk perempun ke perempuan), isteri abang
Anggi : adik laki-laki, adik (untuk perempuan ke perempuan)
Ito/iboto/pinaribot : panggilan untuk saudara laki-laki dari saudarinya dan
Sebaliknya dari saudara laki-laki ke saudarinya

Amang tua/bapa tua : abang dari bapak, suaminya kakak (untuk adik perempuan
kepada suami kakaknya)
inang tua : isteri dari abangnya bapak, kakak dari ibu
amanguda : adik dari bapak, suami dari adiknya (perempuan) ibu
inanguda : isteri adiknya bapak
inang baju : tante, adiknya (perempuan) mamak
amang boru : suami dari saudarinya bapak
namboru : saudarinya bapak

Tulang : saudara dari ibu
Nantulang : isteri dari saudara ibu
Pariban : anak perempuan dari tulang (untuk yang laki-laki), anak laki-laki amangboru (untuk yang perempuan)
Lae : suaminya saudari (ito)

Tunggane : itonya isteri, anak laki-laki tulang
Eda : isteri memanggil ito dari suami, atau sebaliknya ito pihak laki-laki (suami) kepada isteri
amang bao : suami dari eda, suami dari anak perempuan amangboru
inang bao : isteri dari anak laki-laki tulang.

Demikianlah sedikit dari sistem kekerabatan orang batak mudah-mudahan dapat membuka sedikit wawasan mengenai struktur orang batak.

About these ads