About these ads

Oleh :

Ade Hotman L Sagala

09043150015

Pembimbing I    : M Hendri Gumay, M.Si

Pembimbing II   : T. Zia Ulqodry, M.Si

Abstract

The aimed of research was to know the content of Ammonia (NH3-N) and abundance of plankton and also the relation of both variable in brackishwater pond of Merdeka Sarana Usaha. Ltd. and the waters around it. This research was done in four stations are around inlet, outlet, seas and brackishwater pond. The sample of plankton and water have been collected for four times as time series for each taken of the samples. The measurements of oceanografy parameters included pH, DO, salinity, temperature, content of ammonia (NH3-N) and plankton (fitoplankton and zooplankton). The result of this research showed that average of ammonia content in fishpod around 0,0085-0,0344 mg/l, it was categorize as good. The abundance of plankton around 654-833 ind/l. Fitoplankton was found devided in 4 classes, they are Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, and Phrophyceae and the zooplankton was devided in 3 filum they are Protozoa, Trochelmintes and Arthropoda. The relation between  ammonia contain and the abundance of fitoplankton was categorited medium (rvalue = 0,50). Similarly the relation between  ammonia contain and the abundance of fitoplankton was also medium ( rvalue = 0,611).

Keyword :  Brackishwater pond, plankton, ammonia

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan amonia (NH3-N) dan kelimpahan plankton serta hubungan diantara kedua variabel tersebut di perairan tambak PT. Merdeka Sarana Usaha dan perairan sekitarnya.  Penelitian ini dilakukan di empat titik stasiun pengamatan yaitu sekitar inlet, sekitar outlet, laut dan tambak. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak empat kali secara time series. Parameter–parameter oseanografi yang diukur adalah pH, DO, salinitas, kecerahan, suhu, kandungan amonia (NH3-N), dan plankton (fitoplankton dan zooplankton). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kandungan amonia di perairan berkisar antara 0,0085mg/l hingga 0,0344 mg/l. Kandungan amonia tersebut masih dikategorikan dengan kondisi perairan baik. Kelimpahan plankton berkisar antara 654 ind/l hingga 833 ind/l. Fitoplankton yang diperoleh terdiri dari 4 kelas yaitu Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, Phyrophyceae dan zooplankton terdiri dari 3 filum yaitu Protozoa, Trochelminthes, Arthropoda. Hubungan kandungan amonia dan kelimpahan fitoplankton memiliki kategori agak rendah (rvalue = 0,50) sedangkan  hubungan kandungan amonia dan kelimpahan zooplankton memiliki nilai korelasi yang sedang (rvalue = 0,611).

Kata kunci  :  Tambak, plankton, amonia

  1. 1. Pendahuluan

Tambak merupakan sebagai salah satu aktifitas budidaya perikanan darat yang mampu menciptakan dan memperluas lapangan kerja baru yang berdampak juga terhadap peningkatan pendapatan keluarga baik sebagai usaha utama maupun sampingan. Kegiatan ini juga secara tidak langsung turut meningkatkan devisa negara melalui komoditas ekspor non migas (Suwargana, 2002). Peningkatan produksi hasil budidaya pada tambak sangat dipengaruhi oleh kemampuan sumber daya manusia dalam mengolah tambak dan kualitas perairan di sekitar tambak itu sendiri. Interaksi antara organisme perairan dengan lingkungan di sekitar tambak yang seimbang dapat menentukan kualitas perairan yang baik. Lingkungan akan menjadi tidak seimbang, apabila perairan terganggu oleh adanya limbah industri, baik industri pertanian maupun industri pertambangan serta penggunaan pakan yang berlebihan pada usaha budidaya di tambak. Salah satu senyawa toksin dalam perairan adalah amonia (NH3-N). Kadar amonia dalam air laut sangat bervariasi dan dapat berubah secara cepat. Amonia dapat bersifat toksik bagi biota jika kadarnya melebihi ambang batas maksimum. Meningkatnya kadar amonia di laut berkaitan erat dengan masuknya bahan organik yang mudah terurai (baik yang mengandung unsur nitrogen maupun tidak). Penguraian bahan organik yang mengandung unsur nitrogen akan menghasilkan senyawa nitrat (NO3), nitrit (NO2) dan selanjutnya menjadi amonia (NH3) (Effendi, 2003).

  1. 2. Metode Penelitian

2.1       Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada 25 Oktober 2008 s/d 29 Januari 2009 di areal tambak PT. Merdeka Sarana Usaha dan perairan sekitarnya, Pangkal Pinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

2.2       Alat dan Bahan

Parameter

Satuan

Alat / Metode

Lapangan

Laboratorium

Biologi

Fitoplankton

Zooplankton

Fisika

Suhu

Kecerahan

Kimia

Salinitas

Derajat Keasaman (pH)

Oksigen terlarut

Amonia (NH3)

Ind/l

Ind/l

oC

cm

mg/liter

  • Plankton net No. 25
  • Botol contoh
  • Ember (vol. 10  lt)
  • Formalin

  • Termometer air
    • Secchi disk
    • Tali Berskala

  • Handrefraktometer
  • pH meter
  • DO Meter

  • Botol sampel air
  • Water sampler

  • Mikroskop Binokuler
  • Sedgwick–Rafter
  • Pipet
  • Buku Identifikasi

(Newell dan Newell, 1963 ;  COA Fisheries No. 27 dalam Suprapto, 1996)

  • Spektofotometrik
  • Uji Indofenol biru

2.3       Pengambilan Data dan Sampel

Pengambilan data parameter biologi yang dilakukan dengan pengambilan sampel plankton sebagai data utama. Pada setiap kali pengukuran, air contoh untuk analisa plankton di setiap stasiun diambil dengan menggunakan ember plastik volume 10 liter. Air contoh yang diambil langsung disaring dengan menggunakan jaring plankton (plankton net) yang ujung jaringnya telah diikatkan dengan botol contoh. Contoh plankton yang telah diawetkan kemudian diamati di bawah mikroskop binokuler dengan menggunakan metode Sedgwick–Rafter serta diidentifikasi dengan petunjuk buku identifikasi plankton Newell dan Newell (1963) dan COA Fisheries No. 27 dalam Suprapto (1996). Pengambilan data fisika dilakukan dengan mengukur suhu dan kecerahan. Pengukuran suhu dilakukan dengan menggunakan termometer air dengan cara mencelupkan termometer yang dipegang pada tali yang sudah diikatkan ke dalam perairan. Pengukuran kecerahan dilakukan dengan menggunakan secchi disk dan tali berskala.

Pengukuran kandungan oksigen terlarut dilakukan dengan menggunakan DO meter. Pengukuran derajat keasaman (pH) dengan menggunakan pH meter. Pengambilan data dilakukan dengan mencelupkan pH meter ke dalam perairan. Nilai salinitas didapatkan dengan melakukan pengukuran dengan menggunakan Handrefraktometer.

Penentuan kadar amonia dalam air laut dengan metode spektofotometrik didasarkan pada pembentukan senyawa indofenol berwarna biru dengan acuan Standar Nasional Indonesia (SNI)/ Badan Standardisasi Nasional (BSN)  ICS 19.040.

2.4       Analisis data

2.4.1    Analisis Kelimpahan plankton

Kelimpahan plankton dilakukan berdasarkan pencacahan di atas gelas objek Sedgwick Rafter (Michael, 1984) dengan satuan individu/ liter (ind/l). Kelimpahan tersebut dapat dihitung dengan menggunakan metode Sedgwick–Rafter counting cell dan menggunakan mikroskop binokuler Yenaco XSZ 107BN. Sedgwick – Rafter counting cell adalah suatu alat yang digunakan untuk menganalisa plankton berukuran panjang 50 mm, lebar 20 mm dan tinggi 1 mm. Luas             Sedgwick–Rafter sebesar 1000 mm2 (50 mm x 20 mm), dan volume Sedgwick – Rafter adalah 1000 mm3 atau 1 ml (luas Sedgwick Rafter x tinggi). Rumus perhitungan kelimpahan plankton adalah sebagai berikut :

Keterangan :

N     : kelimpahan plankton (ind/l)

n       : jumlah individu yang tercacah (ind)

A      : volume Sedgwick – Rafter counting cell (mm3)

B      : volume total petak yang diamati (mm3)

C      : volume sampel yang tersaring (ml)

D      : volume Sedgwick – Rafter counting cell (ml)

E      : Volume sampel yang disaring (l)

2.4.2        Indeks Kesamaan/Similaritas Plankton

Indeks similaritas digunakan untuk melihat tingkat kesamaan komunitas antar stasiun pengamatan, dengan rumus (Odum, 1993) :

Keterangan :     S   :      Indeks kesamaan Sorenson

S =                                          A  :       Jumlah spesies dalam stasiun pengamatan A

B  :       Jumlah spesies dalam stasiun pengamatan B

C  :       Jumlah spesies yang sama pada kedua sampel

2.4.3    Analisis hubungan kelimpahan plankton dan kandungan amonia (NH3-N) dalam perairan.

Untuk menaksir besarnya pengaruh antar variabel dalam hal ini adalah plankton dan amonia digunakan harga koefisien determinasi (R2) dari hasil analisis korelasi sederhana (korelasi product moment) dengan prosedur analisis koefisien korelasi digunakan rumus sebagai berikut (Sembiring, 1995) :

3.         Hasil dan Pembahasan

3.1       Komposisi dan Kelimpahan Plankton

Berdasarkan hasil pencacahan yang dilakukan di laborotorium mini PT. Merdeka Sarana Usaha nilai kelimpahan plankton di perairan tersebut secara keseluruhan rata-rata berkisar 654 ind/l hingga 833 ind/l. Kelimpahan plankton tertinggi terdapat pada perairan laut dengan rata-rata kelimpahan mencapai 833 ind/l, sedangkan kelimpahan plankton terendah terdapat pada perairan sekitar outlet dengan kelimpahan hingga 654 ind/l.

Tabel 1 Kelimpahan Plankton di Tambak PT. MSU dan Perairan Sekitarnya

Stasiun

Rata-rata kelimpahan plankton (ind/l)

Stasiun 1(inlet)
732 + 77,852

Stasiun 2 (outlet)
654 + 66,324

Stasiun 3 (laut)
833 + 73,587

Stasiun 4 (tambak)
758 + 80,483

*Catatan          :  Nilai dalam rata-rata + standar deviasi

Sumber            :  Data hasil penelitian 2008

Tingginya kelimpahan plankton di laut (stasiun 3) diduga disebabkan oleh tersedianya cukup nutrien bagi kehidupan plankton yang berasal dari hulu sungai sehingga pertumbuhan plankton di stasiun tersebut sangat baik.

3.1.1    Komposisi dan Kelimpahan Fitoplankton

Hasil identifikasi fitoplankton yang ditemukan di perairan tambak PT.Merdeka Sarana Usaha dan perairan sekitarnya ditemukan 4 kelas fitoplankton yang terdiri dari kelas Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae, dan Phyrophyceae. Fitoplankton yang ditemukan terdiri dari 23 genera dimana genera Lyngbya dari kelas Cyanophyceae lebih mendominasi perairan tersebut.  Hal ini diduga karena habitat di perairan sekitar tambak memiliki kandungan anorganik yang cukup tinggi dimana sumber perairan yang merupakan muara sungai yang menjadi tempat bermuaranya limbah dari kegiatan masyarakat  pesisir kota Pangkal Pinang, sehingga terdapat cukup banyak bakteri yang melakukan fiksasi senyawa N seperti Anabaena, Nostoc, Gleotrichia, Oscilatoria, dan Lyngbya di perairan tersebut (Sitaresmi, 2002).

Tabel 2. Komposisi Fitoplankton pada Tiap Stasiun Pengamatan

Stasiun pengamatan Kelas
Jumlah genera

Sekitar Inlet (1) Bacillariophyceae
7

Chlorophyceae
8

Cyanophyceae
5

Phyrophyceae
2

Sekitar Outlet (2) Bacillariophyceae
7

Chlorophyceae
8

Cyanophyceae
5

Phyrophyceae
2

Laut (3) Bacillariophyceae
7

Chlorophyceae
8

Cyanophyceae
5

Phyrophyceae
2

Tambak (4) Bacillariophyceae
7

Chlorophyceae
8

Cyanophyceae
5

Phyrophyceae
1

Sumber :  Data hasil penelitian 2008

Keberadaan fitoplankton menunjukkan sebagian besar jenis fitoplankton di tiap stasiun pengamatan memiliki komposisi jenis yang sama, hal ini diduga karena seluruh stasiun pengamatan jaraknya berdekatan dan berada pada satu perairan sehingga memungkinkan kesamaan jenis plankton di setiap stasiun.

Tabel 3. Indeks Similaritas (IS)

No

Lokasi Pengamatan

Indeks Similaritas (IS)

Stasiun 1

Stasiun 2

Stasiun 3

Stasiun 4

1

Stasiun 1(inlet)

100

100

97,78

2

Stasiun 2 (outlet)
100

100

100

3

Stasiun 3 (laut)
100

100

100

4

Stasiun 4 (tambak)
97,78

100

100

Sumber  :  Data Penelitian 2008

Tingkat kelimpahan fitoplankton dengan  rata-rata kelimpahan tertinggi terdapat pada           stasiun 3 yang berada di laut sebesar 708 ind/l, dan terendah pada perairan sekitar inlet yakni sebesar 589 ind/l. Hal ini diduga karena stasiun 3 terletak di sekitar muara sungai yang membawa nutrien yang berlimpah untuk kehidupan fitoplankton yang berasal dari sungai, sehingga pertumbuhan fitoplankton di stasiun ini lebih tinggi dibandingkan stasiun lainnya.

Tabel 4. Kelimpahan Fitoplankton pada Tiap Stasiun Pengamatan.

Stasiun

Rata-rata kelimpahan fitoplankton (ind/l)

Stasiun 1 (inlet)
641 + 56,548

Stasiun 2 (outlet)
589 + 49,836

Stasiun 3 (laut)
708 + 51,746

Stasiun 4 (tambak)
661 + 57,437

*Catatan          :  Nilai dalam rata-rata + standar deviasi

Sumber            :  Data hasil penelitian 2008

3.1.2    Komposisi dan Kelimpahan Zooplankton

Hasil identifikasi menunjukkan bahwa zooplankton yang ditemukan pada masing-masing lokasi pengamatan terdiri dari 3 filum, yaitu filum Protozoa, Trochelminthes dan Arthropoda.

Tabel 5. Komposisi Zooplankton di Tiap Stasiun Pengamatan

Stasiun Pengamatan

Filum

Jumlah genera

Sekitar Inlet

Protozoa

5

Trochelminthes

4

Arthropoda

2

Sekitar Outlet

Protozoa

1

Trochelminthes

3

Arthropoda

3

Laut

Protozoa

5

Trochelminthes

4

Arthropoda

3

tambak

Protozoa

2

Trochelminthes

3

Arthropoda

4

Sumber :  Data hasil penelitian 2008

Tabel 5 menunjukkan bahwa komposisi zooplankton di tiap stasiun pengamatan rata-rata memiliki tingkat genera zooplankton yang sama dari tiap kelas.

Tabel 6 Keberadaan Zooplankton pada Tiap Stasiun Pengamatan.
Zooplankton

Stasiun Pengamatan

s.inlet

s.outlet

laut

tambak

Protozoa

Euglena
+

+

Volvox
+

+

Paramecium
+

+

Euplotes
+

+

+

+

Peridinium
+

+

+

+

Trochelminthes

Lacinularia
+

+

Brachionus
+

+

+

+

Argonotholca
+

+

+

+

Asplanchna
+

+

+

+

Arthropoda

Apocyclops
+

+

+

+

Diaphasoma

+

+

+

Moina
+

+

+

Diacyclops

+

+

Sumber :  Data hasil penelitian 2008

Secara keseluruhan nilai kelimpahan zooplankton di tambak PT. Merdeka Sarana Usaha dan perairan sekitarnya dapat dilihat pada Tabel 11. Kelimpahan zooplankton di tiap stasiun pengamatan rata-rata berkisar antara 65 ind/l hingga 125 ind/l.

Tabel 7. Kelimpahan Zooplankton pada Tiap Stasiun Pengamatan.

Stasiun

Rata-rata kelimpahan zooplankton (ind/l)

Stasiun 1(inlet)
91   + 21,475

Stasiun 2 (outlet)
65   + 17,519

Stasiun 3 (laut)
125 + 22,376

Stasiun 4 (tambak)
96   + 23,114

*Catatan          :  Nilai dalam rata-rata + standar deviasi

Sumber            :  Data hasil penelitian 2008

Tabel 7 menunjukkan bahwa kelimpahan zooplankton tertinggi terdapat pada stasiun 3 yang berlokasi di laut yaitu sebesar 125 ind/l zooplankton terkecil terdapat pada stasiun 2 yang berlokasi di sekitar outlet yaitu rata-rata sebesar 65 ind/l. Tingginya kelimpahan zooplankton di laut diduga disebabkan oleh tingginya cukup tersedianya sumber makanan seperti fitoplankton di alam.

3.2       Parameter Oseanografi Fisika Kimia Perairan

Tabel 8.  Rata-rata Parameter Fisika dan Kimia Tambak Udang PT. Merdeka Sarana  Usaha dan Perairan Sekitarnya.

Stasiun
Parameter fisika-kimia

Suhu (oC)

pH

DO (mg/l)

Kecerahan (cm)

Salinitas (‰)

NH3-N (mg/l)

(1)  S. Inlet
29.28 + 1.253

7.75 + 0.100

6.94 + 0.063

49.38 + 9.656

14.50 + 0.577

0.0184+0.0008

(2)  S. outlet
29.55 + 0.580

7.45 + 0.058

6.42 + 0.059

23.13 + 2.394

15.25 + 0.500

0.0146+0.0005

(3)  Laut
30.43 + 0.727

8.13 + 0.096

7.23 + 0.062

89.38 + 5.154

25.75 + 0.957

0.0344+0.0044

(4)  Tambak
30.30 + 0.346

7.88 + 0.050

7.13 + 0.043

28.13 + 2.394

14.50 + 1.000

0.0085+0.0001

*Catatan  :   Nilai dalam rata-rata + standar deviasi

Sumber :  Data hasil penelitian 2008

3.2.1  Parameter Oseanografi Fisika Perairan

3.2.1.1  Suhu

Suhu pada tiap stasiun tidak banyak perbedaan karena tiap stasiun berada pada satu lokasi yang berdekatan dan terletak di satu perairan.

Gambar.1  Rata-rata Kisaran Suhu Perairan Tiap Stasiun Pengamatan

Hasil penelitian terhadap suhu perairan menunjukkan tidak terdapat banyak perbedaan pada tiap stasiun. Suhu rata-rata (Gambar 6) di seluruh stasiun berkisar antara 29,28-30,43 oC. Suhu perairan tersebut menunjukkan bahwa kondisi perairan cukup memungkinkan bagi pertumbuhan plankton untuk bertahan hidup. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Nybakken (1992), yang menyatakan bahwa suhu yang baik untuk kehidupan plankton secara umum berkisar antara             20-30 °C.

3.2.1.2 Kecerahan

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kecerahan pada masing-masing stasiun memiliki variasi yang cukup berbeda. Pada stasiun 1 memiliki kisaran rata rata kecerahan sebesar 49,38 cm, stasiun 2 memiliki kisaran rata rata kecerahan sebesar 23,13 cm, stasiun 3 memiliki kisaran rata rata kecerahan sebesar 89,38 cm dan pada stasiun 4 memiliki kisaran rata rata kecerahan sebesar             28,13 cm.

Gambar 2. Rata-rata Kisaran Kecerahan pada Tiap Stasiun Pengamatan.

Rendahnya nilai kecerahan pada stasiun 2 (sekitar outlet) diduga karena tingginya kandungan bahan organik dan anorganik tersuspensi seperti lumpur, pasir halus, maupun bahan organik dan juga dapat disebabkan oleh bahan-bahan tersuspensi berupa lapisan permukaan tanah yang terbawa hanyut oleh aliran air pada saat hujan.

3.2.2  Parameter Oseanografi Kimia Perairan

3.2.2.1  pH

Perbandingan nilai pH antar stasiun disajikan pada Gambar 8. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pH di lokasi penelitian umumnya bersifat netral hingga bersifat basa. Nilai pH tertinggi terdapat di laut (stasiun 3) dengan rata-rata pH sebesar 8,13 dan terendah pada sekitar outlet (stasiun 2) yaitu sebesar 7,45.

Gambar 3. Rata-rata Kisaran pH pada Tiap Stasiun Pengamatan

Tingginya kandungan pH di laut sehingga bersifat basa (pH > 7) karena ion bikarbonat (HCO3) dalam hal ini berperan sebagai garam dengan nilai alkalinitas total tinggi memiliki fungsi sebagai penyangga (buffer capacity)

3.2.2.2  Dissolved Oxygen (DO)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan DO rata-rata  stasiun 1 berkisar antara memiliki rata-rata 6,42-7,23 mg/l.

Gambar 4. Rata-rata Kisaran DO pada Tiap Stasiun Pengamatan

Kadar oksigen terlarut terendah terdapat pada stasiun 2 (sekitar outlet) dan  tertinggi pada stasiun 3 (laut). Tingginya nilai oksigen terlarut di laut (stasiun 3) diduga disebabkan oleh adanya proses fotosíntesis oleh fitoplankton yang lebih besar, karena pada saat fotosintesis fitoplankton akan melepaskan oksigen ke perairan sehingga konsentrasi oksigen meningkat.

3.3       Hubungan Kandungan Amonia (NH3-N) dan Kelimpahan Plankton

3.3.1    Hubungan Kandungan Amonia (NH3-N) dengan Kelimpahan Fitoplankton

Secara keseluruhan tingkat korelasi antara kandungan kandungan amonia dengan kelimpahan plankton di perairan Tambak  PT. Merdeka Sarana Usaha dan perairan sekitarnya adalah 0,54. Nilai korelasi antara amonia (NH3-N) dan kelimpahan fitoplankton di tiap-tiap stasiun pengamatan disajikan pada Tabel 13. dan perhitungan korelasi disajikan pada Lampiran 4.

Tabel 9.  Nilai Korelasi Amonia dengan Kelimpahan Fitoplankton di Tiap Stasiun  Pengamatan

Stasiun

Koofisien korelasi antara amonia dengan kelimpahan fitoplankton

R2

r

Inlet

Outlet

Laut

Tambak

0,902

0,098

0,888

0,958

0,95

0,31

0,94

0,97

Sumber : Data Penelitian 2008

Dari analisis korelasi pada tiap stasiun menunjukkan bahwa pada stasiun  inlet, laut dan tambak antara fitoplankton dan amonia memiliki hubungan yang kuat. Analisa nilai regresi berganda menggunakan program SPSS 11.5 menunjukkan bahwa besarnya pengaruh antara prediktor (zooplankton, amonia, DO, suhu, salinitas, kecerahan, pH) terhadap kelimpahan fitoplankton adalah sebesar 96,4% dengan rumus regresi Y = 318,934 – 14,742 x1 + 184,525 x2 – 124,537 x3 + 0,282 x4 + 0,826 x5 – 3047,703 x6 + 2,382 x7. Hasil analisa regresi menunjukkan bahwa nilai signifikansi zooplankton sebesar 0,000, amonia 0,063, DO 0,220, suhu 0,204, salinitas 0,728, kecerahan 0,590, pH 0,044. Karena nilai sig. untuk uji t individualnya pada prediktor zooplankton dan pH  lebih kecil dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara zooplankton dan pH terhadap kelimpahan fitoplankton dibandingkan dengan kandungan amonia. Hal ini tidak terlepas dari peranan fitoplankton sebagai sumber makanan utama bagi zooplankton.

3.3.2    Hubungan Kandungan Amonia (NH3-N) dengan Kelimpahan Zooplankton

Secara keseluruhan nilai korelasi kandungan amonia dan kelimpahan plankton di Tambak           PT. Merdeka Sarana Usaha dan perairan sekitarnya adalah 0,61 yang berarti bahwa diantara  kedua variabel tersebut hubungannya sedang. Nilai koofisien korelasi antara amonia (NH3-N) dan kelimpahan zooplankton di tiap stasiun pengamatan disajikan pada Tabel 14. dan perhitungan korelasi disajikan pada Lampiran 4.

Tabel 14.  Nilai Korelasi Amonia dengan Kelimpahan Zooplankton di Tiap Stasiun  Pengamatan

Stasiun

Koofisien korelasi antara amonia dengan kelimpahan zooplankton

R2

r

Inlet

Outlet

Laut

Tambak

0,769

0,038

0,959

0,647

0,87

0,19

0,97

0,80

Sumber : Data Penelitian 2008

Analisa regresi berganda menggunakan program SPSS 11.5 menunjukkan bahwa besarnya pengaruh antara prediktor (zooplankton, amonia, DO, suhu, salinitas, kecerahan, pH) terhadap kelimpahan fitoplankton adalah sebesar 97% dengan rumus regresi Y = – 191,651 + 7,298 x1 – 67,220 x2 + 48,259 x3 – 0,90 x4 – 0,897 x5 + 1323,705 x6 + 0,382 x7 (Lampiran 4). Dari analisa koofisien regresi menunjukkan bahwa nilai signifikansi fitoplankton sebesar 0,000, amonia 0,039, DO 0,028, suhu 0,104, salinitas 0,510, kecerahan 0,668, pH 0,074.

4.         Kesimpulan dan Saran

4.1              Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah :

  1. Rata-rata kelimpahan fitoplankton di stasiun pengamatan sekitar inlet adalah sebesar 641 ind/l, sekitar outlet sebesar 589 ind/l, perairan laut sebesar 708 ind/l dan tambak sebesar 661 ind/l, sedangkan kelimpahan zooplankton di stasiun pengamatan sekitar inlet adalah sebesar 91 ind/l, sekitar outlet sebesar 65 ind/l, perairan laut sebesar 125 ind/l dan tambak sebesar 96 ind/l.
  2. Kandungan amonia (NH3-N) di stasiun pengamatan sekitar inlet memiliki rata-rata 0.0184 mg/l, sekitar outlet memiliki rata-rata 0.0146 mg/l, perairan laut memiliki rata-rata 0.0344 mg/l, dan tambak memiliki memiliki rata-rata kandungan amonia sebesar 0.0085 mg/l. Kandungan amonia tersebut masih dikategorikan dengan kondisi perairan baik.
  3. Hasil analisa korelasi antara kandungan amonia dan kelimpahan fitoplankton di tiap stasiun pengamatan memiliki nilai korelasi (r) sebesar 0,54 hasil ini menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang agak rendah sedangkan  korelasi antara kandungan amonia dan kelimpahan zooplankton di tiap stasiun pengamatan memiliki nilai korelasi (r) sebesar 0,61 hasil ini menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang sedang.

4.2       Saran

Diharapkan agar dilakukan penelitian berkelanjutan dan penambahan parameter uji kualitas nutrien perairan seperti nitrit, nitrat dan fosfat sehingga diketahui gambaran dengan baik kondisi nitrogen dan pengaruhnya bagi plankton di tiap lokasi penelitian. Pada usaha tambak disarankan untuk merelokasi saluran outlet yang berada satu jalur dengan saluran inlet, agar irigasi tambak tidak tercemar oleh saluran pengairan dari outlet tersebut.

Daftar Pustaka

Badan Stadardisasi Nasional (BSN) ICS 19.040/Standar Nasional Indonesia (SNI) 19.6964-2003. 2003. Cara Uji Amonia (NH3-N) dengan Biru Indofenol Biru secara Spektofotometrik.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air : bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Fakultas Perikanan. Bogor.

Haliman, R.W. 2005. Udang Vannamei. Penebar Swadaya. Depok.

Handayani, S dan Patria, M. 2005. Komunitas Zooplankton di Perairan Waduk Krenceng, Cilegon, Banten. Makara, Sains, Vol. 9, No. 2, Nopember 2005: 75-80. Jurnal

Haslam, S.M. 1995. River Pollution and Ecological Perspektive. John Wiley and Sons, Chichester, UK.

Hidayanto, M. 1999. Analisis Tanah Tambak Sebagai Indikator Tingkat Kesuburan Tambak. Jurnal. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Samarinda.

Hutabarat, S dan Evans. 2006. Pengantar Oseanografi. Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta : 106.

Hutagalung. H, Dedy dan Riyono. H. 1997. Metode Analisis Air Laut, Sedimen dan Biota Buku ke-2. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi (LIPI). Jakarta.

Laporan Tahunan PT. Merdeka Sarana Usaha Tahun 2007. Pangkal Pinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Marganof. 2003. Potensi Limbah Udang Sebagai Penyerap Logam Berat (Timbal, Cadmium, dan Tembaga) di perairan. Jurnal PPS702-IPB Makalah Science.

MENLH (Menteri Negara Lingkungan Hidup). 2004. Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. KEP-51/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut. Lampiran III.

Muhammad, S. 1991. Dasar-dasar Metodologi Penelitian dan Rancangan Percobaan. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.

Newell, G.E and Newell R.C. 1963. Marine plankton a practical guide.  Hutchinson Educational  LTD 178-202 Great Portland Street, London, W.1.

Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. Cetakan kedua. Diterjemahkan oleh H. M. Eidman, Koesoebiono, D. G. Bengen, M. Hutomo, S. Sukardjo. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Odum, E. P. 1993. Dasar – dasar Ekologi. Edisi ketiga. Diterjemahkan oleh Tjahjono Samingan, dan B. Srigandono. Gajah Mada University Press.

Rachmatun, S dan Ahmad, M. 2003. Budidaya Udang Windu. Penerbit Swadaya. Jakarta.

Rahardi, F. 2003. Agribisnis Perikanan. PT. Penebar Swadaya, Jakarta. 63 hal.

Romimohtarto, K. dan S. Juwana. 1998. Plankton Larva, Hewan Laut. Pusat Penelitian dan Pengembangaan Oseanologi – LIPI. Jakarta.

Sembiring, R. 1995. Analisis Regresi. Penerbit ITB. Bandung.

Sediadi, A dan H. Thoha. 1995. Kelimpahan dan Keanekaragaman Fitoplankton di Sekitar Tambak di Daerah Kamal Tanggerang, Jakarta. Seminar Nasional Sehari Pemberdayaan Sumber Daya Hayati. Puslitbang Oseanologi, LIPI. Jakarta.

Suhartono,A, Okid P dan Prabang S. 2005. Kandungan dan Toksisitas Senyawa Pirit, Amonia dan Nitrat pada Tambak Intensif Udang Windu (Penaeus monodon Fab.) di Tuban, Jawa Timur. ISSN: 1411-4402. PPLH-Lemlit UNS Surakarta. Jurnal

Suprapto, 1996. Petunjuk Operasional Laboratorium Mini untuk Tambak Udang. Departemen Penelitian dan Pengembangan Budidaya Udang. Bandar Lampung.

Supriharyono, M.S. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Thoha, H. 2004. Kelimpahan Plankton di Perairan Bangka-Belitung dan Laut Cina Selatan, Sumatera, Mei – Juni 2002. Makara, Sains, Vol.8, No.3, Desember 2004: 96-102. Jurnal

Wibisono, M.S. 2005. Pengantar Ilmu Kelautan. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

Hasil Identifikasi Plankton

Hasil Identifikasi Fitoplankton

Fitoplankton
Hari 1

Hari 2

Hari 3

Hari 4

s.inlet

s.outlet

laut

tambak

s.inlet

s.outlet

laut

tambak

s.inlet

s.outlet

laut

tambak

s.inlet

s.outlet

laut

tambak

Bacillariophyceae

Achnantes
1

2

1

2

1

2

1

2

2

2

2

3

2

Synedra
2

1

3

3

2

2

4

2

2

1

3

2

3

1

4

Cyclotella
2

1

3

1

1

1

2

1

1

1

2

2

Nitzschia
1

1

3

3

3

2

1

4

3

4

2

2

1

3

Navicula
4

3

4

4

4

4

5

4

4

3

4

2

3

4

3

3

Asterionella
1

1

1

2

1

2

2

1

1

1

1

1

Chaetoceros
2

2

2

2

2

1

3

1

1

1

2

2

2

1

1

Chlorophyceae

Arthrodesmus

2

2

1

2

2

1

2

1

1

1

2

Oocystis
2

2

1

2

2

1

3

3

3

3

2

2

2

2

Spyrogyra
2

1

1

3

2

1

1

2

1

1

Zygnema
2

2

3

2

3

3

2

3

2

2

2

2

2

2

3

Pediastum

1

2

1

2

1

1

1

Stigeoclonium
1

2

1

2

2

2

1

2

1

1

2

2

Ulotrix
3

1

2

1

2

1

2

1

3

2

2

2

2

Actinastrum

3

1

2

2

2

1

1

1

2

Chlorella
2

3

3

2

2

2

2

1

2

2

4

1

3

2

3

2

Cyanophyceae

Anabaena
2

1

2

2

2

3

4

3

2

2

3

3

1

2

3

1

Lyngbya
31

29

34

32

35

30

37

33

30

28

26

31

27

25

33

30

Phormidium

2

1

1

1

1

1

1

1

1

2

Oscilatoria
2

1

2

1

2

2

2

2

3

1

1

Aphanizomenon
1

2

1

1

1

1

1

Phyrophyceae

Nocticula
2

1

1

1

2

2

2

1

1

2

2

1

Ceratium

2

1

1

1

1

1

Σ FITOPLANKTON
63

59

69

66

68

61

74

70

60

56

62

58

55

50

67

60

Hasil Identifikasi Zooplankton

Zooplankton

Hari 1

Hari 2

Hari 3

Hari 4

s.inlet

s.outlet

laut

tambak

s.inlet

s.outlet

laut

tambak

s.inlet

s.outlet

laut

tambak

s.inlet

s.outlet

laut

tambak

Protozoa

Euglena
2

1

1

2

1

1

1

Volvox
1

1

1

1

2

Paramecium
1

1

1

1

2

2

Euplotes

1

2

1

2

1

2

1

2

Peridinium
2

1

2

1

1

1

1

Trochelminthes

Lacinularia

2

1

1

2

Brachionus
1

2

3

2

3

2

2

3

2

2

1

2

2

2

3

1

Argonotholca

1

1

2

1

2

1

1

1

1

1

Asplanchna
1

1

2

1

1

2

1

2

2

Arthropoda

Apocyclops

2

1

2

1

1

1

3

1

1

2

1

1

2

Diaphasoma

1

1

1

1

1

Moina
1

2

1

2

1

1

Diacyclops

1

1

1

1

1

Σ ZOOPLANKTON
9

8

12

10

11

7

15

12

9

6

10

7

6

4

11

8

  1. Analisis regresi berganda fitoplankton terhadap parameter fisika, kimia dan biologi perairan

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.990(a)

.981

.964

12.499

a  Predictors: (Constant), ZOO, AMONIA, DO, SUHU, SALINITS, KECERAHN, PH

ANOVA(b)
Model
Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

1 Regression
63431.103

7

9061.586

57.999

.000(a)

Residual
1249.897

8

156.237

Total
64681.000

15

a  Predictors: (Constant), ZOO, AMONIA, DO, SUHU, SALINITS, KECERAHN, PH

b  Dependent Variable: FITO

Coefficients(a)
Model
Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1 (Constant)
318.934

261.406

1.220

.257

SUHU
-14.742

10.653

-.196

-1.384

.204

PH
184.525

77.064

.733

2.394

.044

DO
-124.537

43.775

-.621

-2.845

.022

KECERAHN
.282

.502

.118

.561

.590

SALINITS
.826

2.288

.063

.361

.728

AMONIA
-3047.703

1414.329

-.469

-2.155

.063

ZOO
2.382

.267

1.051

8.932

.000

a  Dependent Variable: FITO

Rumus analisis regresi berganda dengan variabel terikat fitoplankton :

y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + … + b7x7

y =  318,934 – 14,742 x1 + 184,525 x2 – 124,537 x3 + 0,282 x4 + 0,826 x5 – 3047,703 x6 + 2,382 x7

  1. Analisis regresi berganda zooplankton terhadap parameter fisika, kimia dan biologi perairan

Model Summary
Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.992(a)

.984

.970

5.002

a  Predictors: (Constant), FITO, AMONIA, DO, SUHU, SALINITS, KECERAHN, PH

ANOVA(b)
Model
Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

1 Regression
12393.826

7

1770.547

70.760

.000(a)

Residual
200.174

8

25.022

Total
12594.000

15

a  Predictors: (Constant), FITO, AMONIA, DO, SUHU, SALINITS, KECERAHN, PH

b  Dependent Variable: ZOO

Coefficients(a)

Model
Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1 (Constant)
-191.651

91.590

-2.092

.070

SUHU
7.298

3.983

.220

1.832

.104

PH
-67.220

32.680

-.605

-2.057

.074

DO
48.259

18.063

.546

2.672

.028

KECERAHN
-.090

.202

-.085

-.445

.668

SALINITS
-.618

.897

-.106

-.689

.510

AMONIA
1323.705

535.986

.462

2.470

.039

FITO
.382

.043

.865

8.932

.000

a  Dependent Variable: ZOO

Rumus analisis regresi berganda dengan variabel terikat zooplankton :

y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + … + b7x7

y =  -191,651 + 7,298  x1 – 67,220 x2 + 48,259 x3 – 0,90 x4 –  0,897 x5 + 1323,705 x6

+ 0,382 x7

About these ads