About these ads

Mumpung lagi Hangat-hangatnya Pengajuan Tarian Tor-tor agar dapat dipentaskan di Malaysia oleh Masyarakat Batak yang berasal dari mandailing, ada sebuah pemahaman yang harus diketahui bahwa, syarat tor-tor bisa dipentaskan dalam pesta perkawinan harus memotong KERBAU. Dan ini memberatkan tentunya bagi orang Mandaling (TAPSEL) yg hidup di bawah rata2. Jangan pernah mimpi calon pengantin bisa ber Tor Tor ria, kalau tidak memenuhi syarat itu.

Jika sepakat budaya milik semua golongan, mengapa tokoh Adat Mandailing masih mempertahankan syarat memotong KERBAU dalam pesta perkawinan itu?. Dan sampai saat ini yang namanya Tor Tor hanya bisa dinikmati orang2 kaya Mandailing dalam pesta perkawinan. Si miskin, seakan tidak berhak melakoni tor tor itu. Hal ini berbeda dengan Tor Tor di Toba, tidak ada persyaratan sebagai mana adat di TAPSEL. Jika syarat motong KERBAU itu tidak segera direformasi, maka lambat atau cepat, masyarakat pun akan meninggalkan budaya menortor itu.
Memang alasan dahulu bahwa pelaksanaan Tor-tor di Mandailing kemungkinan adalah supaya ada harga adat itu dan sebagai bahan untuk memotivasi supaya bekerja lebih giat, agar kelak biaya untuk melakukan adat itu bisa didapatkan namun jika kita mulai dari awal, bagaimana munculnya sebuah budaya batak ini ,yang muncul bukan keinginan atau kemauan orang perorang. Budaya itu milik dari semua para pewarisnya. Terlebih-lebih di Batak yang sudah tersetruktur dengan baik dengan adanya Marga, yang berperan dalam DALIHAN NA TOLU. Keterikatan sosial yang sudah sangat sempurna terprogram didalamnya. Pemusik ( Batara Guru ) kalaulah mereka menganggap diri mereka sebagai Batara Guru( berperan mengawal DALIHAN NA TOLU) pasti tidak setuju kalau tidak ada Pemotongan Kerbau, karena itulah dasar mereka mau melakukan tugasnya, yang pada dasarnya tidak dibayar ( Professionalme). Kekeliruan kita adalah, sering kita menganggap Gondang itu milik sebuah keluarga ( secara nasional kita pahami sebagai Ayah, Ibu dan Anak) saja, sedangkan di Konsep Dalihan Natolu, yang ada itu SUHUT, sebuah Marga. Jadi disinilah peran Marga itu harus berjalan maksimal. Tidak ada yang tidak mampu dalam hal ini. Masalahnya hanya tidak ada Kebersamaan dan pemahaman yang masih belum menyambung. Kita masih sering mengikut saja, dengan kata lain apakah kita termasuk Batak Ikut-ikutan.

Terlepas dari itu hal yang dapat kita lakukan adalah harus menjaga adat itu agar kelak dapat terus berlangsung dan diketahui oleh cucu kita sedangkan untuk mahalnya tidak perlu kita merevolusi sudut pandang kita terhadap adat dengan sudut pandang ekonomi yang memberi manfaat serta nilai tambah sebagai produk budaya yang bisa dijadikan magnet wisatawan manca negara sehingga pelestariannya dipertahankan tidak hanya sebagai produk hiburan…


About these ads