About these ads

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat mendorong kemajuan diberbagai bidang yang ditandai dengan diciptanya alat-alat kesehatan yang semakin canggih dan praktis serta ditemukan metode baru untuk memecahkan masalah yang ada dalam dunia kesehatan khususnya bidang Radiologi.

Perkembangan tersebut telah mendorong Radiografer untuk senantiasa memodifikasi hasil karyanya untuk mempermudah melakukan posisi pasien sehingga pasien merasa lebih nyaman dan aman dengan tetap berupaya menghasilkan radiograf yang optimal untuk membantu menegakkan diagnosa. Berkaitan dengan hal itu, pembuatan foto rontgen toraks biasa dibuat dalam dalam proyeksi PA (postero-anterior) atau proyeksi AP (antero-posterior), lateral dan proyeksi tambahan seperti proyeksi oblik dengan kemiringan 45˚ (Sjahriar Rasad, 1992). Seperti halnya untuk memvisualisasikan apeks paru, dilakukan dengan dengan beberapa proyeksi, yaitu : AP axial/AP erect top lordotic, AP axial oblique (metode lindblom), PA axial (metode Fleischner), (Philip W. Bellinger, 1991). Terkadang untuk memvisualisasikan apeks paru ini dibutuhkan posisi yang tepat agar mendapatkan gambaran yang optimal dari apeks paru tersebut karena kedudukan apeks paru terletak agak tersembunyi oleh banyangan klavikula yang melintang didepan objek tersebut. Dalam pemeriksaan apeks paru sering dilakukan dalam proyeksi AP erect top lordotic, proyeksi ini sering mengalami suatu kesulitan baik kesulitan dalam pengaturan pasien maupun kenyamanan pasien, kedua hal ini sangat berpengaruh terhadap radiograf yang akan dihasilkan.

Pada penulisan ini dibahas tentang pembuatan penyangga kaset yang dapat disudutkan sehingga dapat memudahkan pengaturan posisi pasien dengan tetap mengoptimalkan hasil gambaran dari apeks paru yang terbebas dari bayangan klavikula.

B. Formulasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka dapat disusun formulasi masalah, yaitu “ Apakah modifikasi penyangga kaset dapat mempermudah pengaturan posisi pasien dalam pemeriksaan apeks paru sehingga dapat menghasilkan radiograf yang optimal “.

C. Tujuan Penelitian

  1. Tujuan Umum

Untuk mendapatkan modifikasi alat bantu penyangga kaset yang dapat disudutkan untuk pemeriksaan apeks paru posisi AP erect top lordotic sehingga dapat menghasilkan radioraf yang optimal.

  1. Tujuan Khusus

a. Untuk mempermudah pengaturan posisi pasien.

b. Dapat memberikan kenyamanan terhadap pasien.

c. Mendapatkan hasil gambaran dari apex paru posisi AP erect top lordotic yang optimal.

 

D. Manfaat Penelitian

  1. Institusi pelayanan

Dapat dijadikan suatu alternatif alat bantu untuk mempermudah pengaturan pasien sehingga pasien merasa lebih nyaman dalam pemeriksaan apeks paru posisi AP erect top lordotic sehingga dapat menghasilkan gambaran apeks paru dengan baik yang terbebas superposisi dengan klavikula.

  1. Keilmuan

Dapat dijadikan alternatif untukmelakukan pemeriksaan apeks paru posisi AP erect top lordotic.

BAB II

KAJIAN TEORITIS

 

Dasar Teori

  1. Anatomi dan Fisiologi Paru-Paru

Paru-paru adalah alat pernapasan yang terdiri atas dua, yaitu paru-paru kanan dan paru-paru kiri. Paru-paru kanan dan kiri dipisahkan oleh jantung beserta pembuluh darah besarnya dan struktur lainnya yang terletak di dalam mediastinum. Paru-paru adalah organ yang berbentuk krucut dengan puncaknya (apeks) terletak di atas dan muncul sedikit lebih tinggi dari klavikula. Pangkal paru-paru duduk diatas landai rongga toraks diatas diagfragma. Paru-paru mempunyai permukaan luar yang menyentuh iga-iga, permukaan dalam yang memuat tampuk paru-paru, sisi belakang yang menyentuh tulang belakang dan sisi depan yang menutupi sebagian sisi depan jantung.

Paru-paru dibagi menjadi beberapa belahan atau lobus oleh fisura. Paru-paru kanan mempunyai tiga lobus dan paru-paru kiri mempunyai dua lobus. Setiap lobus tersusun oleh lobula. Sebuah pipa bronkial kecil yang masuk kedalam setiap lobula dan semakin bercabang maka semakin tipis dan akhirnya berakhir menjadi kantong-kantong kecil yang merupakan kantong-kantong udara paru-paru. Jaringan paru-paru merupakan jaringan yang elastis, berpori dan seperti spon.

Fungsi dari paru-paru adalah sebagai pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida. Sistem kerjanya dimulai dari pemungutan oksigen melalui hidung dan mulut, pada waktu bernapas oksigen masuk melalui trakhea dan pipa bronkhial ke alveoli dan erat hubungannya dengan darah didalam kapiler pulmonalis.

Hanya satu lapisan membran, yaitu membran alveoli-kapiler yang memisahkan oksigen dari darah. Oksigen menembus membran ini dan dipungut oleh hemoglobin sel darah merah dan dibawa kejantung, disini darah yang mengandung oksigen dipompakan kedalam arteri untuk diedarkan keseluruh bagian tubuh. Darah meninggalkan paru-paru pada tekanan oksigen 100 mm Hg dan pada tingkat ini hemoglobinnya 95 persen jenuh oksigen.

  1. Patologi Paru-Paru

a. TBC (tuberculosis cronic)

Merupakan suatu penyakit pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh mycrobacterium tuberculosis, penyakit ini merupakan penyakit menular dan kebanyakan ditularkan melalui udara (air bone). Sarang-sarang yang terlihat pada foto rontgen biasanya terdapat pada bagian atas dan segmen apical lobi bawah. (Price, A. Sylvia, 1994 ; 754)

Menurut American tuberculosis Association (ATA), Tuberculosis dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :

1) Tuberculosis minimal (minimal tuberculosis)

Luas sarang-sarang yang tidak melebihi daerah yang dibatasi oleh garis median, apex dan iga kedua depan. Sarang-sarang soliter berada dimana saja, tidak harus berada dalam daerah tersebut diatas. Tidak ditemukan lubang (cavitas).

2) Tuberculosis lanjut sedang (moderately advanced tuberculosis)

Luas sarang-sarang yang bersifat bercak-bercak tidak melebihi 4 cm, kalau sifat bayangan tersebut berupa awan-awan yang berubah menjadi daerah konsolidasi yang homogen dengan luas tidak boleh melebihi luas satu lobus paru.

3) Tuberculosis sangat lanjut (far advanced tuberculosis)

Luas daerah yang dihinggapi oleh sarang-sarang lebih luas daripada klasifikasi kedua diatas atau bila ada lubang-lubang maka diameter keseluruhan semua lubang melebihi 4 cm

b. Radang Paru (bronkhitis)

Timbulnya penyakit ini disebabkan oleh bakteri, virus, protozoa, jamur, bahan-bahan kimia, lesi, kanker, dan radiasi ion. Pada foto rontgen, penyakit ini hanya tampak corak-corak ramai dari bagian basal paru, biasanya penyakit ini ditandai dengan panas tinggi, batuk dan nyeri dada. (Price, A. Sylvia, 1994)

c. Emfisema

Adalah suatu keadaan dimana paru-paru lebih banyak berisi udara sehingga ukuran paru bertambah baik anterior-posterior maupun ukuran paru secara vertikal kearah diagfragma. (Price, A. Sylvia, 1994)

d. Efusi Pleura

Pembentukan cairan dalam rongga pleura yang disebabkan oleh banyak keadaan yang dapat berasal dari kelainan dalam paru-paru sendiri, misalnya virus/jamur, tumor paru, tumor mediastinum, metastasis atau disebabkan oleh keadaan kelainan sistematik antara lain penyakit-penyakit yang dapat mengakibatkan hambatan aliran getah bening, hipoproteinemia pada penyakit ginjal, hati, dan kegagalan jantung. Pada foto rontgen toraks tegak, cairan ini tampak berupa perselubungan homogen menutupi struktur bawah yang biasanya relatif radioopak dengan permukaan atas cekung yang berjalan dari sisi lateral kesisi medial bawah. (Price, A. Sylvia, 1994)

e. Pneumo Thorax

Adanya udara dalam rongga pleura akibat masuknya udara kedalam rongga pleura. (Price, A. Sylvia, 1994).

f. Abses Paru

Merupakan peradangan jaringan paru yang menimbulkan nekrosis dengan pengumpulan nanah. Pada foto rontgen akan nampak kavitas/multikavitas berdinding tebal dan dapat juga ditemukan permukaan udara dan cairan didalamnya, biasanya terletak pada lobus bawah paru kanan. (Price, A. Sylvia, 1994)

g. Edema Paru

Merupakan penimbunan cairan serosa/serosanguinesa secara berlebihan dalam ruang interstinal dan alveolus paru-paru. Penyebab penyakit paling sering pada edema paru adalah kegagalan ventrikel kiri akibat penyakit penyakit jantung arteriosklerotik atau stenosis mitralis. (Price, A. Sylvia, 1994)

h. Kor Pulmonale

Merupakan suatu keadaan dimana timbul hipertrofi dan dilatasi ventrikel kanan tanpa atau dengan adanya kegagalan jantung kanan. Timbulnya penyakit ini disebabkan oleh penyakit yang menyerang struktur/fungsi paru-paru atau pembuluh darah. (Price, A. Sylvia, 1994 )

Tinjauan Pustaka

a. Menurut Glenda J. Bryan , hal 158 (1974)

Untuk menggambarkan apical (apeks paru). Posisi pasien bersandar pada kaset dengan jarak 25 cm sehingga hanya bahu yang menempel kaset. Posisi lengan seperti foto toraks PA. Pusat sinar pada pertengahan kaset setinggi sternum dengan sudut 30° crainaly.

Untuk memperlihatkan interlobus jarang digunakan tetapi gambaran reverse (kebalikan) sering digunakan. Posisi pasien membelakangi kaset memanjang dan harus cukup besar untuk menggambarkan keseluruhan dada, pusat sinar di sternum dengan sudut 30° cranialy.

b. Menurut KC. Clark, hal 335 (1973)

Untuk memperlihatkan apical (apeks paru) dapat dilakukan dengan posisi sebagai berikut :

1) Dengan posisi paien AP, tabung sinar-x disudutkan 30° cranialy dengan sentrasi dibawah ketinggian klavikula.

2) Dengan pasien menyandar (lordosis) sehingga tekuk leher dapat menyandar pada kaset dengan arah sinar dipusatkan dibawah klavikula.

3) Dengan posisi PA, tabung sinar-x disudutkan 30° cranialy dengan arah sinar dipusatkan melalui apical. Modifikasi yang disarankan untuk posisi PA.

c. Menurut Syariar Rasad, hal 126 (1999)

Pemeriksaan rontgen adalah sangat penting untuk mendiagnosa tuberculosis paru. Pembuatan foto rontgen paru sering dilakukan dengan proyeksi PA (anteroposterior) dan bila perlu disertai dengan proyeksi tambahan seperti proyeksi lateral, foto khusus AP lorditik dan teknik-teknik lainnya seperti foto dengan kV tinggi (high voltage).

Pemeriksaan hasil radiologi untuk mendiagnosa, menentukan lokasi proses dan tanda perbaikan atau perburukan dengan melakukan perbandingan terhadap foto-foto terdahulu.

d. Menurut Meschan, hal 228 (1986)

Untuk memperlihatkan bagian atas dada (apex paru), yaitu dialakukan dengan posisi pasien berdiri kira-kira satu kaki kedepan dari kaset vertikal atau penyangga kaset dan kemudian menyuruh pasien bersandar kearah belakang dengan posisi lordosis. Puncak kaset diatur sehingga bagian atas kaset kira-kira satu inci (2,5 cm) diatas bahu pasien. Pusat sinar melewati daerah manubrium kira-kira 5° cranialy untuk memperlihatkan apical yang lebih jelas. Gambar AP lordotik menampilkan daerah paru-paru dan mediastinum yang mengalami distorsi, tetapi bagian penting yang ditampilkan adalah apeks paru akan terlihat dengan jelas, area interlobus dari puncak akan terlihat, dan sekto pembuluh darah dari bayangan jantung akan terlihat.

e. Menurut Pilhip W. Ballinger, hal 468-471 (1995)

Proyeksi AP axial (metode Lindblom) adalah : posisi pasien AP erect menghadap tube kira-kira satu langkah dari kaset vertikal atau penyangga kaset. Pasien diinstruksikan untuk bersandar pada kaset, sehingga tekuk leher pasien dan kedua bahu pasien menempel kaset. Atur ketinggian kaset sehingga batas atas kaset berada kira-kira 1 inci (2,5 cm) diatas bahu pasien.

Untuk proyeksi oblique, rotasikan tubuh pasien kira-kira 30° dari posisi AP, dengan sisi yang diperiksa menempel kaset dan berada pada pertengahan kaset. Fleksikan siku pasien dan letakkan tangan pasien pada pinggul. minta pasien untuk merebahkan bagian belakang tubuh dalam posisi lordosis dan bahu pada daerah yang diperiksa menempel pada kaset. Atur arah sinar horisontal tegak lurus dengan bidang kaset dengan pusat sinar berada pada pertengahan sternum.

Untuk proyeksi PA axial (metode Fleischner), atur posisi pasien menghadap kaset, batas atas kaset kira-kira 1inchi (2,5 cm) dibawah bahu pasien ketika pasien dalam posisi berdiri tegak. Minta pasien untuk memegang penyangga kaset dan kemudian pasien diintruksikan untuk merebahkan badannya kearah belakang (posterior) pada posisi ekstrem lordosis sampai tubuh pasien membentuk sudut 45° dengan kaset. Dengan posisi pasien lordosis maka apeks paru akan tervisualisasi pada pertengahan film.

Kerangka Berfikir

 

1. Penjelasan

Pemeriksaan apeks paru sering mengalami suatu kesulitan, yaitu kesulitan dalam pengaturan posisi pasien yang berpengaruh terhadap kenyamanan pasien dan hasil gambaran yang diperoleh. Oleh karena itu maka dibuatlah suatu modifikasi dari penyangga kaset yang tidak dapat disudutkan menjadi penyangga kaset yang dapat disudutkan. Keuntungan dari penyudutan penyangga kaset ini adalah dapat memberikan kenyamanan pasien karena pasien merasa penyangga kaset ini dapat dijadikan alat bantu untuk pemeriksaan apeks paru posisi AP erect top lordotic.

Untuk membuat modifikasi penyangga kaset ini diawali pembuatan sketsa, pada pembuatan sketsa ini ditentukan model serta panjang, lebar, tebal, dan jenis bahan yang digunakan. Setelah sketsa selesai maka selanjutnya dilakukan pengumpulan alat dan bahan yang sudah ditentukan pada pembuatan sketsa.

Setelah alat dan bahan terkumpul maka selanjutnya adalah pembuatan alat modifikasi penyangga kaset, pembuatan alat ini dilakukan di bengkel las.

Untuk mengetahui apakah alat ini baik digunakan pada pemeriksaan apeks paru, maka akan dilakukan pengujian alat. Pengujian alat ini dilakukan di RSUD. Budiasih oleh Radiografer rumah sakit setempat. Alat dapat diaplikasikan setelah dilakukan pengujian dan hasilnya telah dibahas dan dianalisa.

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

 

A. Desain Penelitian

Dalam penulisan ini dilakukan dengan metode eksperimen, dimana dilakukan pengujian fungsi alat modifikasi penyangga kaset untuk pemeriksaan apex paru posisi AP erect top lordotic sehingga dapat menggambarkan gambaran apex paru dengan baik dan bebas superposisi oleh bayangan klavikula.

 

B. Tempat dan Waktu Pengujian

Pengujian alat modifikasi penyangga kaset ini dilakukan di RSUD. Budi Asih yang beralamat di jalan Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur pada bulan juni 2007.

C. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuisioner yang ditujukan kepada Dokter Spesialis Radiologi, Radiografer, dan Pasien. Kuisioner ini digunakan untuk memperoleh data dalam rangka menguji fungsi dari alat modifikasi penyangga kaset dengan penyudutan untuk pemeriksaan apeks paru pada posisi AP erect top lordotic sehingga akan dapat menghasilkan gambaran apeks paru yang optimal.

D. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada karya tulis ini berupa :

1. Tinjauan Pustaka

Pengumpulan data dengan mencari referensi-referensi dari perpustakaan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik Kesehatan Jakarta II.

2. Uji Fungsi

Pengumpulan data dengan melakukan percobaan pemeriksaan apex paru posisi AP erect top lordotic dengan menggunakan alat bantu penyangga kaset yang dibuat oleh penulis.

3. Kuisioner

Pengumpulan data yang dilakukan melalui pengisian pertanyaan-pertanyaan pada lembaran kuisioner secara langsung oleh Dokter Spesialis Radiologi, Radiografer, dan pasien.

Kuisioner ini dibagi menjadi tiga macam, yaitu :

a. Kuisioner mengenai kriteria gambaran yang diisi oleh Dokter Spesialis Radiologi.

b. Kuisioner mengenai pengaturan pasien yang akan diisi oleh Radiografer.

c. Kuisioner mengenai kenyamanan yang akan diisi oleh pasien.

Adapun penilaian pada quisioner ini adalah sebagai berikut :

  1. A menyatakan baik
  2. B menyatakan cukup
  3. C menyatakan kurang

Hal-hal yang dinilai dalam uji fungsi ini adalah sebagai berikut :

a. Untuk Dokter Spesialis Radiologi

Hal-hal yang dinilai oleh Dokter Spesialis Radiologi adalah :

1) Nilai A apabila penggunaan alat bantu ini dapat memberikan gambaran apeks paru yang baik/jelas, tulang clavikula tidak menutupi apeks paru karena tulang klavikula terangkat kearah atas (superior), dan tulang scapula terlempar kesisi lateral menjauhi paru-paru.

2) Nilai B apabila penggunaan alat bantu ini memberikan gambaran apeks paru yang cukup baik, tulang klavikula cukup terangkat kearah atas (superior) sehingga apeks paru masih terlihat jelas/baik.

3) Nilai C apabila penggunaan alat bantu ini memberikan gambaran apeks paru yang kurag baik, dan tulang klavikula serta tulang scapula yang tidak terlempar sehingga tulang klavikula dan tulang scapula overlap dengan apeks paru, oleh karena itu gambaran apeks paru akan tervisualisasi kurang jelas dan akan mengganggu pendiagnosaan.

b. Untuk Radiografer

Hal-hal yang dinilai oleh Radiografer adalah :

1) Nilai A apabila penggunaan alat bantu ini dapat memberikan pengaturan posisi pasien yang lebih mudah dan waktu pengaturan lebih cepat.waktu pemeriksaan <2menit.

2) Nilai B apabila waktu dan pengaturan posisi pasien sama dengan tanpa menggunakan alat bantu penyangga kaset, waktu pemeriksaan 2-2,5 menit.

3) Nilai C apabila penggunaan alat bantu ini mengakibatkan pengaturan posisi pasien yang lebih susah dan waktu pengaturan yang lebih lama. Waktu pemeriksaan >2,5 menit.

c. Untuk Pasien

Hal-hal yang dinilai oleh pasien adalah :

1) Nilai A apabila penggunaan alat bantu ini dapat memberikan kenyamanan terhadap pasien. Kenyamanan ini seperti tdiak merasa kesakitan dengan posisi yang telah diatur, tidak pegal dan tidak takut jatuh.

2) Nilai B apabila kenyamanan pemeriksaannya sama dengan tanpa menggunakan alat Bantu.

3) Nilai C apabila penggunaan alat bantu ini mengakibatkan ketidak nyamanan terhadap pasien, seperti rasa sakit dan pegal akibat posisi yang kurang nyaman, dan pasien merasa tidak stabil sehingga pasien akan goyang dan akan mengganggu gambaran yang akan dihasilkan pada pemeriksaan apeks paru ini.

BAB IV

PEMBAHASAN

 

Pembuatan Alat

1. Alat dan Bahan

a. Las listrik

b. Pantograf

c. Pipa besi ukuran 0.5 inchi dengan panjang 10 cm

d. Plat besi dengan tebal 1 mm, 4 mm dan 8 mm

e. Besi beton ukuran 8 mm

f. Alat grinda

g. Alat pemotong besi

h. Bor listrik

i. Baut ukuran 8 mm

j. Martil

k. Pengaris siku dan meteran

l. Cat pilok

m. Amplas besi

2. Teknik Pembuatan Alat

Sebelum dilakukan pembuatan alat penyangga kaset terlebih dahulu dilakukan pembuatan sketsa terhadap alat yang akan dibuat, setelah sketsa selesai maka dilanjutkan dengan pengumpulan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan penyangga kaset. Adapun tahap-tahap dari pembuatan penyangga kaset ini adalah :

a. Pemotongan plat besi

1) Plat besi ukuran 4 mm di potong dengan pemotong besi sepanjang 28 cm sebanyak tiga buah dan panjang 7 cm sebanyak dua buah. Potongan ini digunakan sebagai tempat kaset radiografi.

2) Plat besi dengan ukuran 1mm dipotong dengan panjang 28 cm dan lebar 3 cm sebanyak, kemudian potongan plat tersebut ditekuk sehingga membuntuk hurup L. Potongan ini digunakan sebagai penahan kaset agar tidak jatuh.

3) Plat besi dengan ukuran 8 mm dipotong dengan panjang 20 cm dan lebar 15 cm sebanyak dua buah. Kemudian pada salah satu sudutnya dipotong sehingga membentuk seperempat lingkaran dan pada daerah tersebut diberi lubang memanjang mengikuti lengkungan potongan tadi, untuk membuat lubang panjang ini digunakan alat pantograf agar hasil lubangnya bagus. Potongan plat ini digunakan sebagai penentu penyudutan pada penyangga kaset.

4) Pipa besi dipotong sepanjang 10 cm dengan pemotong besi. Potongan ini digunakan sebagai pengatur ketinggian tempat kaset.

b. Proses perakitan/pengelasan besi-besi

1) Pembuatan tempat kaset dibuat dengan menyambung plat ukuran 28 cm dengan plat ukuran 7 cm dengan las listrik sehingga membentuk pesegi panjang, plat ukuran 28 cm digunakan sebagai panjangnya dan plat ukuran 7 cm digunakan sebagai lebarnya. Setelah penyambungan plat tersebut maka dilakukan pengelasan plat 1mm yang sudah ditekuk membentuk huruf L pada salah satu sisi panjang dari persegi panjang yang sudah dibuat tadi dan satu lagi dilas pada plat 4 mm yang mempunyai panjang 28 cm. Persegi panjang ini digunakan sebagai tempat kaset bagian bawahnya dan plat ukuran 28 cm digunakan sebagai tempat kaset bagian atasnya yang dapat dinaikkan dan diturunkan.

2) Agar dapat meletakkan kaset radiografi dengan berbagai ukuran maka dibuat pengatur agar tempat aset bagian atas bisa dinaikkan ketika meletakkan kaset dengan ukuran yang lebih panjang. Untuk membuat pengaturan ini dilakukan dengan mengelas besi beton dengan panjang 50 cm sebanyak dua buah pada sisi belakang dari tempat kaset tersebut. Setelah itu pada ujung atas dari tempat kaset bagian bawah diberi cincin sebanyak empat buah, sepasang dikanan dan sepasang lagi disebelah kiri, apabila pengelasan besi beton dan cincin telah selesai maka kedua bagian tempat kaset tersebut disatukan dengan memasukkan besi beton kedalam cincin.

3) Pipa besi (pengatur ketinggian penyangga kaset) yang sudah dipotong tadi dilas pada pengatur penyudutan.

4) Untuk dapat membuat tempat kaset dapat disudutkan maka tempat kaset harus disambung dengan pengaturan penyudutan, namun sebelum disambung maka pada penyangga kaset diberi dudukan yang terbuat dari plat besi dengan panjang 14 cm, lebar 5 cm, dan tebal 4mm. Plat besi ini dilas pada daerah belakang dari tempat kaset bagian bawah. Kemudian plat ini diberi baut dan lubang memanjang agar dapat disambung atau disatukan dengan pengatur penyudutan. Lubang panjang tersebut dibuat dengan mesin bor listrik dan adapun fungsi dari lubang ini adalah sebagai sumbu saat tempat kaset disudutkan. Baut digunakan untuk memfiksasi tempat kaset ketika tempat kaset tersebut disudutkan dan lubang panjang pada pengaturan penyudutan merupakan landasan dari tempat kaset untuk dapat disudutkan.

c. Proses akhir

Setelah pengelasan selesai maka tahap selanjutnya adalah tahap pengalusan, semua bekas las digrinda agar bekas pengelasan terlihat baik dan rapi. Kemudian setelah proses penggrindaan selesai maka untuk memperindah tampilan maka penyangga kaset yang dibuat tadi dicat dengan cat pilok, namun sebelum penyangga kaset dicat, maka terlebih dahulu alat tersebut diamplas agar cat pilok dapat menempel dengan baik.

Pengujian Alat

1. Alat dan Bahan

a. Pesawat Rontgen

1) Merek : Siemens

2) Type : Polymobil 10

3) Filter Inherent : 1,8 mm Al

4) Kapasitas : 80 mA

5) kV Maksimal : 125 kV

b. Film Radiografi

1) Merek : Agfa

2) Sensitifitas : Green Sensitif

3) Ukuran : 24 cm x 30 cm

c. Kaset Radiografi

1) Merek : Agfa

2) Type : CP 400

3) Sensitifying screen : Agfa Green Emiting

d. Prosesing otomatis

1) Merek : Agfa

2) Type : CP 1000

2. Teknik Pengujian

Pengujian alat modifikasi penyangga kaset ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan alat tersebut sehingga dapat dijadikan alat bantu untuk pemeriksaan apeks paru dengan hasil yang optimal, meningkatkan kenyamanan pasien , dan kemudahan dalam pengaturan posisi pasien.

Langkah-langkah pengujian modifikasi penyangga kaset ini adalah sebagai berikut :

a. Hidupkan pesawat Rontgen

b. Atur faktor eksposi untuk apeks paru. Pada eksperimen ini menggunakan faktor eksposi sebesar 60 kV dan 12,5 mAs.

c. Letakkan kaset ukuran 24 cm x 30 cm pada penyangga kaset dalam posisi melintang dengan posisi lebel name berada diatas.

d. Letakkan marker sebagai tanda kanan atau kiri.

e. Atur penyudutan penyangga kaset sebesar 30˚, kemudian lakukan pengencangan baut agar posisi penyangga kaset yang sudah diatur tidak berubah lagi.

f. Pasien berdiri satu langkah di depan penyangga kaset dengan posisi menghadap tabung x-ray.

g. Rebahkan badan pasien kearah penyangga kaset hingga pasien bersandar pada permukaan kaset.

h. Atur posisi tangan pasien sama dengan posisi foto thorak PA (posteroanterior).

i. Atur batas atas kaset berjarak 7 cm dengan bahu pasien.

j. Atur arah sinar horisontal tegak lurus bidang kaset dengan pusat sinar berada pada pertengahan sternum.

k. Pencucian film dilakukan dengan prosesing otomatis.

l. Pembahasan hasil gambaran.

 

 Gambar 14 Gambar pemeriksaan apex paru dengan alat bantu

Uji fungsi alat penyangga kaset ini dilakukan oleh radiografer RSUD. Budiasih dengan mengambil 10 orang pasien, setelah itu penulis mengajukan beberapa pertanyaan dalam bentuk kuisioner yang diisi oleh Dokter Spesialis Radiologi, Radiografer, dan Pasien.

Pembahasan

Sesuai dengan data kuisioner yang diperoleh maka penulis akan membahas permasalahan yang ada pada bab sebelumnya, yaitu :

1. Apakah alat modifikasi penyangga kaset dapat mempermudah pengaturan posisi pasien?.

Dari 5 orang radiografer RSUD. Budiasih yang melakukan uji fungsi alat ini menilai bahwa :

a) Untuk pengaturan poisis pasien, seluruh responden memberi nilai A, yaitu : dengan penggunaan alat modifikasi ini dapat memepermudah pengaturan posisi pasien pada pemeriksaan apeks paru posisi AP erect top lordotic.

b) Untuk waktu pemeriksaan, 4 responden memberi nilai memberi nilai A, yaitu : dengan menggunakan alat modifikasi ini dapat mempersingkat waktu pemeriksaan. Sementara 1 responden lagi memberi nilai B, yaitu : penggunaan alat modifikasi ini tidak mempengaruhi waktu pemeriksaan atau waktunya dianggap sama dengan tanpa menggunakan alat. Dari percobaan yang dilakukan di rumah sakit ini didapat data bahwa pemeriksaan apeks paru dengan menggunakan penyangga kaset membutuhkan waktu 1.68-2 menit, sedangkan tanpa menggunakan alat membutuhkan waktu 2-2,3 menit.

Dari data quisioner tersebut dapat disimpulkan bahwa:

1) Untuk pengaturan posisi pasien, 100% responden menyatakan alat ini dapat mempermudah posisi pasien.

2) Untuk waktu pemeriksaan 80% responden menyatakan alat ini dapat mempersingkat waktu pemeriksaan, dan 20% responden menyatakan cukup.

2. Apakah alat modifikasi penyangga kaset ini dapat memberikan kenyamanan terhadap pasien?.

Dari 10 orang responden yang dilakukan pemeriksaan apeks paru dengan menggunakan alat modifikasi penyangga kaset ini, menilai bahwa :

a) Untuk kenyamanan, 9 orang responden menyatakan alat modifikasi penyangga kaset ini dapat memberikan kenyaman terhadap pasien dengan alasan tidak takut jatuh, tidak pegal, dan tidak menyakitkan, sementara 1 orang responden menyatakan alat ini cukup nyaman.

Dari data quisioner tersebut dapat disimpulkan bahwa 90% responden menyatakan alat modifikasi penyangga kaset ini dapat memberikan kenyamanan, sehingga pasien dapat mempertahankan posisi yang sudah diatur oleh radiografer dengan tidak merasa takut jatuh, pegal ataupun kesakitan. Sedangkan 10% lagi menyatakan alat bantu ini cukup nyaman terhadap pasien.

3. Apakah alat modifikasi penyangga kaset ini dapat mnghasilkan radiograf yang baik?

Setelah uji fungsi dilakukan, maka hasil radiograf apeks paru yang dihasilkan dengan menggunakan alat modifikasi penyangga kaset ini akan diajukan ke Dokter Spesialis Radiologi untuk dinilai hasilnya.

Dari 5 responden yang menilai hasil uji fungsi ini menyatakan bahwa:

a) Untuk penilaian apeks paru, seluruh responden menyatakan apeks paru terlihat lebih jelas atau tervisualisasi dengan baik.

b) Untuk penilaian klavikula, seluruh responden menyatakan klavikula terlempar ke atas (superior) atau terlempar menjauhi lapangan paru.

c) Untuk penilaian skapula, seluruh responden menyatakan skapula terlempar keluar (lateral) atau terlempar menjauhi lapangan paru.

Dari data kuisioner tersebut dapat disimpulkan bahwa 100% responden menyatakan bahwa penggunaan alat modifikasi penyangga kaset dapat menghasilkan gambaran apex paru yang baik atau jelas dengan terlemparnya klavikula keatas (superior) atau menjauhi lapangan paru dan terlemparnya skapula kearah luar (lateral) atau menjauhi lapangan paru.

 

BAB V

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Dari pengujian alat modifikasi penyangga kaset dengan penyudutan yang di uji coba di RSUD. Budiasih dapat disimpulkan bahwa alat modifikasi penyangga kaset layak untuk digunakan sebagai alat bantu pemeriksaan apeks paru pada proyeksi AP erect top lordotic sehingga dapat menghasilkan gambaran apeks paru yang baik, memudahkan pengaturan posisi pasien, dan dapat memberikan kenyamanan terhadap pasien.

  1. Saran

Penggunaan alat ini akan sedikit mengalami kesulitan ketika pasien yang akan dilakukan pemeriksaan memiliki badan yang gemuk (obesitas), kesulitannya adalah dalam hal pengaturan posisi pasien, oleh karena itu maka dibutuhkan sedikit kesabaran dalam pengaturan posisi pasien untuk mendapatkan gambaran apeks paru yang simetris.

Demikianlah semoga penulisan ini berguna.

About these ads