About these ads

Tek tek mula ni gondang, Ser ser mula ni tortor
Bunyi tek-tek-tek air yg menetes mengisi & membasahi kerinduan relung jiwa akan bumi yang haus,
tanah kering yg menanti turunnya hujan dari langit.
Ser-ser-ser… lalu hujan turun dlm debur deras yang perlahan menyusuri permukaan bumi.
Tetesan air menari-nari bergerak ke setiap celah kering yang menanti hadirnya.
Dan bumi pun hidup kembali

Konteksnya : Pemerintah Malaysia mengakui Tor Tor dan Gordang Sembilan, seni minoritas Mandailing di sana, sbg warisan nasional.
Itupun dengan syarat: Tor Tor dan Gordang Sembilan hanya diakui jika secara reguler dipentaskan di publik
Pengakuan pemerintah Malaysia atas seni-budaya kaum minoritas (dlm hal ini Mandailing) adalah suatu hal yg positif.
Coba bandingkan dgn perlakuan kita terhadap seni-budaya minoritas Tionghoa, misalnya. Lama kita justru memberangusnya.
Tor Tor diakui, bukan diklaim dan didaftarkan oleh Malaysia ke UNESCO sebagai miliknya Media perlu memberi konteks yg jelas ketika menulis “klaim” Malaysia yg sudah berkali-kali. Tanpa itu, kita cuma sibuk urusan sepele

Terlalu banyak energi kita utk ‘membully’ Malaysia secara salah arah. Cuma menguntungkan media dan politisi kompor
Pengakuan pada hak seni-budaya minoritas, bukan memandangnya asing, satu hal yg layak kita tiru dr Malaysia
Pengakuan pd hak seni-budaya minoritas merupakan cara inklusi (merangkul) bukan eksklusi (mengasingkan) kaum minoritas
Satu setengah abad lalu, Alfred Wallace menyebut kepulauan Indonesia yg kita kenal sekarang sbg “Malay Archipelago”
Dalam UU Warisan Nasional 2005 Malaysia, pengakuan “national haritage” tak identik dg klaim kepemilikan nasional UU Warisan Nasional Malaysia Pasal 69: “Any National Heritage ….remain in the possession of its owner, custodian or trustee.”

Untuk mendapat pengakuan sbg Warisan Nasional, produk seni-budaya harus dinominasikan. Ada pengusulnya Ada baiknya kita bertanya pada komunitas Mandailing di Malaysia, apakah mereka mengusulkan Tor Tor jadi Warisan Nasional di sana
Pemerintah Malaysia takkan mengakui Tor Tor sbg warisan nasional jika tidak diusulkan komunitas Mandailing di sana
Dengan mengakui Tor Tor sbg warisan nasional, Malaysia mendorong tarian itu dipentaskan secara rutin, bukan dilupakan.
Dan sementara kita meributkan Malaysia, banyak orang Indonesia sendiri, kecuali Suku Batak, sebenarnya tak pernah tahu apa itu Tortor Di Malaysia, harta pribadi kita bisa didaftarkan dan diakui sbg warisan nasional, tanpa kita kehilangan hak milik atas harta itu.

MENGAKUI (to acknowledge — recognize the existence) tidak sama dg MENDAKU (to claim — demand the recognition of a right)

repost from FB Naimarata Indonesia
About these ads