About these ads

Dalam tulisan kali ini saya ingin menampilkan bagaimana adat batak secara umum , jadi bukan seperti susunan adat dalam keluarga Orang Batak tetapi adalah pembagian masyarakat batak yang menyebabkan adanya pertentangan dalam masyarakat batak, pertentangan ini dimulai dari Belanda melalui Van Volen Houven dan Ter Haar, sebagai pembuatan wilayah adat dan pembuat hukum adat bahkan diakui sebagai Bapak Hukum adat di Indonesia. Wilayah Adat Batak dia bagi menjadi 5 sub Batak:
1 Karo,
2 Simalungun,
3 Toba,
4 Pakpak-Dairi,
5 Mandailing.

Kemudian Toba dia bagi menjadi lebih sub lagi, Toba, Samosir, Humbang dan Silindung. Toba dia bagi dua dengan sebutan Toba Holbung dan Toba na Sae. Humbang dia bagi dua lagi menjadi Humbang dan Butar. Silindung menjadi Silindung Julu dan Silindung pahae.

Karo dia bagi; Karo Gugung, Buluh Berteng, Karo Jahe-Jahe, Karo Singalor Lau, Karo Langkat dan Karo Deli.

Simalungun dia bagi dua, Simalungun atas dan Simalungun Toruan.

Mandailing dia bagi tiga, Mandaling, Angkola dan Padang Lawas, Mandailing dibagi dua, mandailing Dolok dan Mandailing Jae, sedangkan Angkola dibaginya menjadi Angkola Julu dan Angkola Jae, berikut juga Padan yaitu Padang Bolak dan Padang Lawas.

Dari dibagi dua, Pak-pak dan Dairi, kemudian wilayah adat tersebut menjadi satu kembali.

Setelah pembagian wilayah adat tersebut Kemudian hukum adatnya diperkuat, hingga lama baru bisa terjadi perkawinan antara Silindung dengan Toba dan sebaliknya demikian juga yan terjadi antar wilayah, terlebih antar sub etnik, seperti Karo dengan Toba dan seterusnya. Akibatnya adalah, raja-raja kecil pun selalu dibabat dengan politik pecah belah, dengan mengangkat Demang dan Nagari. Kemudian diantuk-antukkan, hingga Raja Huta yang paling banyak memiliki hatuban (pembantu) adalah sebuah prestise yang luar biasa. Perang antar kampung, juga adalah pecah belah, walaupun antar kampung dibawahi oleh Bius yang memiliki Dalihan Na Tolu. Huta membawahi Lumban dan Lumban membawahi Sosor. Semuanya diikat oleh Dalihan Na Tolu, tapi toh terjadi perang juga. Ini juga kemungkinan yang menyebabkan Kenapa orang Batak tidak bisa bersatu dalam menguasai ekonomi? Kenapa harus berjalan sendiri-sendiri.

Kenapa kita tidak meniru orang Tionghoa yang tetap bersatu dalam ekonomi? Mereka sadar, kalau dalam politik mereka tak mungkin bisa menang, maka ekonomilah yang dikuasai. Kenapa kita demikian? Bukankah orang Batak jago marpollung? Rasanya, yang terpenting bagi kita Halak Batak, adalah bagaimana caranya kita bisa bersatu.

Bukankah selama ini Belanda terus mengadudomba kita dan menciptakan legenda-legenda dan legenda itu berhasil menguasai adu-domba setelah pada generasi ke tiga atau ke empat? Mari kita lihat kasus si Saribu Raja dengan ibotonya Boru Pareme. Siapa sebenarnya yang menciptakan legenda itu, hingga sampai sekarang terjadi pertentangan na mardongan tubu antara Borbor dan adik-adiknya?

Demikianlah ulasan ini dibuat hanya untuk membuka pikiran kita Halak Batak …
About these ads