About these ads

Setelah kemarin kita membahas pulau Nongsa, pada kesempatan kali ini saya coba paparkan keberadaan Pulau Nusakambangan dari berbagai aspek.

A. ASPEK FISIK

1. Letak

Pulau Nusakambangan adalah pulau milik Indonesia yang terletak di Desa Tambakreja, Kecamatan Cilacap, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Pulau ini berbatasan dengan Negara Australia. Di sebelah utara pulau ini terdapat selat dikenal dengan nama Segara Anakan. Selat inilah yang memisahkan Pulau Nusakambangan dengan daratan Pulau Jawa, khususnya dengan Kota Cilacap. Kota Cilacap merupakan kota yang terdekat dan berbatasan langsung dengan kawasan Pulau Nusakambangan. Di sebelah selatan Pulau Nusakambangan berbatasan dengan Samudera Hindia. Pulau ini berada dalam koordinat 07°47’05” LS dan 109°02’34” BT. Di Nusakambangan Pilar Titik Referensi  tidak ada yang terpasang. Pilar di Cimiring berupa pilar TD (Titik Dasar) 143. Lokasi pilar Titik Dasar  berada di atas bukit + 176 mdpl curam yang memiliki kemiringan curam. Jarak sekitar 50 meter dari pantai.

2. Luas

Luas pulau Nusakambangan ini kurang lebih 210 km2.

3. Aksesibilitas

Untuk mencapai Pulau Nusakambangan, perjalanan dapat dilakukan melalui Pelabuhan Wijayapura di Kota Cilacap dengan menggunakan kapal ferry milik Departemen Kehakiman. Setelah mengarungi Selat Segara Anakan, ferry tersebut akan mendarat di Pelabuhan Sodong di Pulau Nusakambangan yang sekaligus berfungsi sebagai pintu gerbang utama pulau tersebut. Perjalanan ini membutuhkan waktu sekitar ±15 menit. Dalam satu hari terdapat lima kali jadwal pemberangkatan, dengan pemberangkatan paling pagi pukul 06.00. Di Pulau Nusakambangan hanya terdapat dua bus yang digunakan untuk mengangkut para karyawan lembaga pemasyarakatan selama pergi dan pulang kerja.

4. Topografi dan lereng

Pulau ini merupakan kesatuan barisan dari pegunungan Lelok Blok Jawa Barat dan berlanjut ke timur ke Pegunungan Gombong Selatan dan Gunung Kidul Yogyakarta. Berdasarkan bentuk topografi, struktur dan jenis batuan serta proses geomorfologi, wilayah pulu Nusakambangan dapat dibagi menjadi 5 stuan bentuk morfologi, yaitu;

a) Perbukitan berbatuan breksi, dengan lereng 15 – 35% dan ketinggian < 100 m dpal terdiri dari batuan breksi dan batuan pasir. Sebagian tertutup oleh hutan (di bagian selatan dan pantai utara ujung timur Pulau Nusakambangan).

b) Perbukitan berbatuan gamping, dicirikan oleh topografi dengan relief membulat, berlereng 15 – 35 % dan terletak di sebelah utara perbukitan berbatu breksi yang masih tertutup oleh hutan, sehingga terjadi proses pelapukan erosi dan longsoran.

c) Kaki leremg perbukitan gamping, bertopografi landai sampai bergelombang, terdiri dari batu gamping dan kolovium.

d) Dataran Aluvial, dijumpai di pantai utara dan lembah-lembah sungai di bagian selatan Nusakambangan, yang terdiri dari lumpur, pasir, kerikil dan lempung hasil pengendapan dari hancuran batu breksi, batu gamping dan napal.

e) Dataran pasang surut, terdapat di sekeliling segara anakan dan pesisir utara Nusakambangan, yang terdiri dari lumpur yang belum memadat dari sedimentasi dataran yang tertutup hutan bakau.

Jenis Tanah diantaranya; Aluvial (15%), Lithosol (10%) dan Podsol (75%). Kemiringan wilayah sangat bervariasi dari kurang dari 2% sampai lebih dari 40% dengan mayoritas kemiringan 0 – 15% (47%), 15 – 25% (17%), 25 – 40% (21%) dan >40% (15%). Kedalaman efektif tanah berkisar dari 50 sampai 90 cm. Erosi yang terjadi akibat tiupan angin dan air hujan maupun sungai.

B. Aspek Kependudukan dan Sosial Ekonomi

1. Jumlah dan perkembangan penduduk

Pulau ini tidak berpenghuni selain dari para narapidana dan petugas Lembaga Pemasyarakatan. Ada empat LP di Nusakambangan yaitu LP Batu, LP Besi, LP Kembang Kuning dan LP Permisan. Di pulau ini terdapat kompleks perumahan untuk para pegawai LP. Rumah-rumah ini terletak di kanan-kiri jalan yang membelah Pulau Nusakambangan. Pulau ini juga sering dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun asing yang menikmati obyek-obyek wisata di pulau ini. Namun Sebelum menjadi tempat penampungan narapidana, Pulau ini telah berpenduduk dengan mata pencaharian bercocok tanam, mencari hasil hutan, dan menangkap ikan. Penggunaan tenaga napi dalam pembuatan benteng pertahanan di Nusakambangan pada 1861 menjadi titik awal masuknya orang-orang hukuman atau perantaian ke pulau ini.

Jumlah Penduduk

Keberhasilan yang dicapai pemerintah Hindia Belanda dalam melakukan pengawasan dan pengamanan terhadap napi saat itu dipakai sebagai dasar penetapan pulau tersebut sebagai pulau penampungan bagi orang hukuman atau penal colony. Sebelum keputusan diambil, Pemerintah Hindia Belanda melakukan penelitian lebih dahulu terhadap pulau lainnya, seperti Pulau Nusa Barung di JATIM, Prinsen Eiland di Ujung Kulon, dan Krakatau di Selat Sunda.

2. Mata Pencaharian penduduk

Sebagian besar penduduk adalah Para Narapidana, pegawai lembaga pemasyarakatan dan keluarganya, petani serta beberapa nelayan yang sering singgah.

3. Agama

Karena menjadi tempat narapidana seluruh Indonesia maka di Nusakambangan terdapat pemeluk Islam, Kristen, Katholik, Hindu dan Budha. Dengan sebagian besar penduduk beragama Islam.

4. Pendidikan

Rata-rata yang bersekolah di pulau ini adalah anak-anak para pegawai bersekolah di SD yang tersedia di dalam pulau, yaitu SD Tambakreja 05 dengan guru dari Cilacap. Untuk meneruskan ke tingkat lanjutan (SMP, SMU, atau perguruan tinggi), mereka harus bersekolah di Cilacap atau kota lainnya di Pulau Jawa.

5. Kesehatan

Untuk sarana pelayanan kesehatan terdapat sebuah Klinik, dan juga sarana-sarana lain yang kondisinya cukup baik.

C. POTENSI PULAU

SUMBERDAYA ALAM FLORA Flora yang terdapat di kawasan ini mencakup hutan mangrove (mangrove forest) di Segara Anakan dan hutan tropika (tropical rain florest) di Pulau Nusakambangan. Hutan di Pulau Nusakambangan merupakan hutan alam tropika basah daratan rendah, yang pada kondisi sekarang dapat dikatakan tinggi sebagai relict (sisa akhir) dari yang pernah ada karena di Pulau Jawa, khususnya di Provinsi Jawa Tengah, tipe hutan seperti ini hampir tidak dapat dijumpai lagi. Dengan demikian hutan-hutan di Pulau Nusakambangan layak jika disebut sebagai “The Last Real Rain forest of Java”. Tebaran flora di hutan ini hampir tidak merata. Saat ini, keadaan flora di hutan-hutan ini di beberapa tempat terutama di bagian barat telah mulai mengalami kerusakan. Untuk itu diperlukan suatu usaha pelestarian alam yang memadai di kawasan hutan ini. Pulau Kambangan, yang berstatus sebagai cagar alam, selain sering digunakan untuk latihan militer, juga merupakan habitat bagi pohon-pohon langka, namun banyak yang telah ditebang secara liar. Saat ini yang tersisa kebanyakan adalah tumbuhan perdu, nipah, dan belukar. Kayu plahlar (Dipterocarpus litoralis) yang hanya dapat ditemukan di pulau ini banyak dicuri karena setelah dikeringkan, mempunyai kualitas yang setara dengan kayu meranti dari Kalimantan. Perlu dilakukan pengelolaan secara terpadu dan pengawasan terhadap kegiatan-kegiatan ilegal di pulau ini agar kelestarian alamnya terpelihara. Pelestarian penyu juga dapat dilakukan di pulau ini, yang merupakan salah satu upaya untuk melestarikan sumberdaya perikanan ini dari kepunahan, dimana daerah berpasir putih Nusakambangan dipandang sebagai lokasi yang sangat tepat. Pantai selatan Pulau Nusakambangan merupakan daerah terumbu karang yang merupakan habitat ikan hias dan udang lobster. Dari segi usaha penangkapan ikan, alat tangkap yang cocok dikembangkan di sekitar pulau ini antara lain adalah purse seine, pancing atau rawai, gillnet dan alat tangkap bubu sehingga sumberdaya ikan yang tersedia di sekitar pulau dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin bagi kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Pulau ini juga memiliki beberapa pantai berpasir putih yang sangat indah, di antaranya, Pantai Permisan, Muara Empat, Pasir Putih, Indraloka, Pantai Karangbandung dan Pantai Cimiring. Selain itu terdapat sekitar 25 gua alam, di antaranya Goa Ratu, Goa Putri, Goa Pasir, Goa Lawang, Goa Batu Lawang, Goa Bantarpanjang, Goa Salak, Goa Ketapang serta goa yang menjadi habitat kelelawar yang dikenal dengan Goa Lawa. Tempat-tempat tersebut merupakan obyek wisata yang sangat potensial untuk dikembangkan. Masih banyak tempat dan obyek wisata lainnya di pulau ini yang sangat berpotensi bila dipelihara dan dikembangkan. Bencana tsunami menyebabkan beberapa tempat perlu diperbaiki dan fasilitas yang hancur perlu dibangun kembali. Peluang investasi di Pulau Nusakambangan ini antara lain sarana transportasi darat dan laut, akomodasi berupa lapangan golf dan fasilitas wisata air.

D. ASPEK PERTANAHAN

1. Penguasaan Tanah

Nusakambangan memiliki luas 21.000 hektar. Dengan luas kawasan sebesar itu terdapat beberapa penguasaan kawasan baik oleh Departemen Kehakiman, KSDA dan Pemda Cilacap. Terdapat Benteng-benteng peninggalan Belanda yang berlokasi di Karang Bolong (Tebeng Dua) yang saat ini sudah dibuka dan dikelola sebagai tempat wisata, dan juga terdapat Benteng Portugis di wilayah Karang Tengah yang dibangun antara tahun 1861 sampai 1879.

Rincian Penguasaan Tanah di Pulau Nusakambangan

2. Penggunaan Tanah

Banyak lahan di daerah ini yang sudah diberdayakan sebagai lahan pertanian, misalnya kebun kelapa, tambak udang dan perkebunan karet. Terdapat bangunan LAPAS di Nusakambangan yaitu LP Batu, LP Besi, LP Kembang Kuning dan LP Permisan. Di pulau ini terdapat kompleks perumahan untuk para pegawai LP. Rumah-rumah ini terletak di kanan-kiri jalan yang membelah Pulau Nusakambangan.

E. Tempat Penting

Pada pulau ini terdapat sarana bantu navigasi berupa mercusuar di Cimiring setinggi 15 meter yang dijaga oleh 5 orang. Sarana dan Prasarana untuk keperluan penduduk seperti air, komunikasi, pendidikan,dll sangat lengkap dan tersedia meski cukup memperihatinkan. Kebutuhan air bersih menggunakan air yang bersumber dari air perbukitan yang disalurkan melalui pipa-pipa ke masing-masing Lembaga Pemasyarakatan (LP) dan perumahan. Untuk penerangan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Sejak Tahun 2001, PT. Holcim (dulu PT. Semen Nusantara) memberi bantuan listrik ke seluruh LP di pulau ini. Sarana Transportasinya terbagi menjadi 2 yaitu laut dan darat. Sarana komunikasinya dengan telepon engkel yang berusia lebih dari 50 tahun. Sedang untuk berhubungan ke luar pulau dengan telepon Otomat yang berada di dermaga Wijayapura, Cilacap.

LAPAS Nusakambangan dan Patung Soekarno-Hatta

Untuk Peta Wilayah Pulau Nusakambangan berikut saya lampirkan Petanya untuk memudahkan teman-teman.

Demikianlah pembahasan Pulau Nusakambangan ini, dari sini kita lihat bahwa Nusakambangan tidak hanya terkenal Penjara tapi ada aspek lain yang dapat kita kenal.

About these ads