About these ads

Sebuah Perdebatan

1. Sipayung adalah simalungun;
2. Jika Sipayung enggan bergabung dengan silahisabungan, maka tentu ada sejarahnya. ada sejarah sipayung yang tidak sama dengan sejarah di toba/samosir.
3. Jangan kita memaksakan sejarah masa lalu sipayung harus dari silahisabungan, biarkan sipayung yang akan berbicara dan biarkan mereka menelusuri sejarah mereka.
4. Sebagai Perbandingan, kami damanik pun tidak bisa dihistoriskan dari toba. itu akal-akalan tarombo toba/tapanuli. kami punya historis sendiri, kalau kami berasal dari Tibet, yang kemudian membantuk kerajaan nagur. jadi jangan “menggeneralisasikan” sesuatu yang masih hipotesa. ingat mempelajari sejarah berarti mempelajari link yang terhilang.
5. Sipayung adalah simalungun, bukan toba/samosir/tapanuli.
terimakasih

menaggapi nomor1 & 5:
pernyataan ini ga/belum bisa diterima sebagai kebenaran karna ga didukung fakta yang kuat. masa menyimpulkan sesuatu tanpa ada fakta-fakta/pernyataan-pernyataan pendukung. faktanya dong amangboru. lagian saya ini Sipayung Toba kok. Saya ga terima “dipaksa” sebagai Simalungun, apalagi sama pihak ketiga. (bah, dari mana pula ada hak seperti itu).

Menanggapi poin 2:
Saya Sipayung, dan saya mau dan sangat senang bergabung dengan Silahisabungan!! Kok bisa amangboru menggeneralisasikan semua sipayung enggan bergabung sama Silahisabungan sementara amangboru sendiri bukan bagian dari kami (pernyataan ini dihubungkan sama pernyataan amangboru dalam poin 4 yang bilang kalo amangboru itu Damanik–jadi setau saya bukan Sipayung).

menanggapi poin 3:
ga ada juga amangboru yang memaksakan sejarah masa lalu Sipayung harus dari Silahisabungan. Kita masyarakat demokrasi, yang namanya pemaksaan apalagi pemaksaan asal-usul sejarah dan masa lalu ga relevan lagi untuk masyarakat kita sekarang. yang ada itu bahwa sekarang ini ada dua jalur besar perbedaan pandangan “sesama Sipayung” (kalo kita mau bilang sipayung itu adalah semuanya sama) sendiri, yang satu bilang Sipayung itu adalah aslinya Toba, dan satu lagi yang bilang kalo Sipayung itu adalah aslinya Simalungun. nah kalo seandainya orang-orang yang bermarga Sipayung yang mengaku sebagai Toba membuat silsilahnya kalo mereka berasal dari keturunan Raja Silahi Sabungan yang kemudian memperanakkan Situngkir Raja–dan dari Situngkir Raja inilah marga Sipayung itu lahir– itu menurut saya sah-sah saja, ga ada unsur pemaksaan kalo semua marga Sipayung harus menerimanya sebagai satu kebenaran yang mutlak. Konstitusi sendiri sudah mengatur kalo setiap orang bebas untuk berpendapat, yang konsekuensi logisnya adalah bahwa setiap orang juga bebas memilih apakah dia setuju ataukah tidak terhadap pendapat yang disampaikan orang lain. nah kalo seandainya Sipayung yang merasa dirinya Simalungun memiliki versi sejarah yang berbeda dengan yang disampaikan oleh Sipayung klan Toba, menurut saya sih sah-sah saja. Sipayung Toba tidak akan keberatan. Bahkan dengan kita tau perbedaan pandangan satu sama lain kita bisa saling mengisi kekosongan pengetahuan kita. Kalo ternyata amangboru punya cerita versi sejarah Sipayung yang berbeda dengan sejarah yang disampaikan Sipayung klan Toba, saya juga mau dengar dan kalo boleh tolong ditampilkan di grup ini. Soalnya saya ga pernah dengar sebeumnya ada versi sejarah berbeda dari pihak Sipayung klan Simalungun. Tapi kalo memang ga bisa dan ga ada, kita jangan mempersalahkan Sipayung klan Toba dong yang membuat sejarah versinya sendiri. Kalo hanya klan Toba yang bisa membuktikan, mau gimana lagi???

poin 4:
Tolong jangan pernah bilang kata yang mengandung provokasi seperti”AKAL-AKALAN”. kita sesama orang batak (terlepas itu batak yang mana), atau kalo ga mau ngaku batak juga kita sesama orang Indonesia, jangan sampai karena perbedaan pandangan sampai harus berperang atau bermusuhan (kayak DePeeR aja). kita manusia, yang namanya manusia bisa juga kesal, tapi manusia juga harus bisa menahan emosinya, jangan sampe kata-kata itui diumbar-umbar diforum ini.
kalo mau dan tau sejarah sendiri, ya silakan aja dibuat, ga ada juga kok yang larang. kita bebas berpendapat kan.
soal “penggeneralisasian” hipotesa juga perlu kita lihat lebih mendalam. tadi amangboru bilang mempelajari sejarah berarti mempelajari link yang terhilang. secara idealnya ya memang hal ini bisa kita benarkan, masalahnya dalam kenyataannya masih banyak orang-orang dalam mengungkap sejarah menggunakan suatu Hipotesis (ejaan yang benar berdasarkan KBBI) walau masih bisa diperdebatkan, karna memang yang namanya kebenaran yang mutlak diterima semua orang itu ga pernah ada. misalnya saja tentang sejarah asal-usul manusia. orang-orang pengikut Darwin dengan teori evolusinya, dengan bersandarkan pada pendapat melihat pada kenyataan dilapangan ada kemiripan manusia dengan monyet, yakin kalo manusia punya nenek moyang yang sama dengan kera, yang kemudian mengalami evolusi menjadi manusia seperti yang sekarang ini. sedangkan penganut agama, terutama agama kristen, yahudi, islam, dengan mengandalkan kitab sucinya masing-masing bilang kalo manusia itu langsung diciptakan sama tuhan. jadi ga ada proses evolusi-evolusian segala.nah untuk masalah mendasar seperti itu aja udah ada penggeneralisasian hipotesis. kan memang manusia itu kalo udah mentok ga bisa lagi menjabarkan pake fakta, ujung2nya pasti deh pake hipotesis atau teori. dan teori itu bebas untuk diterima atau engga. dan kalo memang teori itu udah bisa dipatahkan, secara otomatis teori itu pasti hilang dengan sendirinya. nah sekarang tugas dari amangborulah membuktikan kalo hipotesis sejarah marga amangboru yang dibuat dalam Tarombo Toba itu salah. baru orang secara umum bisa meninggalkan teori yang sudah ada dan mengakui kebenaran yang amangboru ungkapkan. kalo belum bisa, saya juga bisa bilang kok kalo cerita amangboru yang bilang Damanik itu dari Tibet hanya hipotesis belaka.

Mauliate. maaf kalo ada kata-kata yang tidak berkenan.

About these ads