About these ads

Ulos dalam adat Batak adalah kain adat yang berbentuk persegi panjang yang sisinya berumbai-rumpai dan memiliki banyak hiasan manik-manik. Ulos ini diyakini oleh Rumpun Suku Batak memiliki makna sakral bagi yang menerima maupun yang memberi.

Proses Mangulosi di Halak Batak

Ulos Biasanya dipakai dalam melakukan Pangadaton (Pesta-pesta Adat yang dilakukan oleh orang-orang batak terutama berkaitan dengan pernikahan dan Kematian Orang Batak. Jenis-jenis Ulos biasanya dibedakan dari ulos yang diberikan oleh siapa dan kepada siapa. Adapun Jenis-jenis Ulos tersebut Adalah :

  • ULOS PANSAMOT : Penerima adalah Orangtua Pengantin Laki-laki namanguloskon / memberikan orangtua pengantin perempuan
  • ULOS HELA : Penerima adalah Kedua pengantin dan yang namanguloskon Orang tua pengantin Perempuan
  • ULOS PARAMAAN : (Ulos Sijalo Boru/ Pamarai) Penerima adalah salahsatu dari bapatua atau bapauda pengantin laki-laki
  • Ulos SIHUNTI AUPANG : Penerima adalah tio/namboru pengantin laki-lak idan yang memberikan adalahkakek/namboru pengantin perempuan
  • ULOS SIMOLOHAN / ULOS SIMANDOKKON : penerima adalah salah satu dari haha / amangudana pengantin laki-laki yang memberikan ialah salah seorangito/amangudapengantin perempuan
  • ULOS TODOAN 1 : Penerima adalah salah seorang saudara suhut paranak ayah / kakak bersaudara
  • ULOS TODOAN 2 : Penerima adalah salah seorang dari suhut paranak keturunan ompung/ompu bersaudara
  • ULOS PAROROT : Penerima adalah salah seorang namboru dari pengantin laki-laki atau namboru dari suhut paranak
  • ULOS tu punguan marsaompu yang diterima oleh ketua Punguan
  • ULOS tu punguan boru marsaompu
  • ULOS untuk mewakili ompu generasi kedua, ketiga, keempat abang/adik dalam satu keluarga.

Selain Ulos diatas ada juga Ulos yang dinamakan ULOS HOLONG, ulos ini adalh ulos yang diberikan karena sukacita, ulos ini terdiri dari berbagai jenis yang dapat dijelaskan sebagai berikut,

  • ULOS HOLONG PAMARAI / SIJALO BERE : Yakni Ulos yang diberikan Abang/adik dari ayah pengantin perempuan yang sudah berkeluarga
  • ULOS HOLONG PARIBAN : Yakni Ulos yang diberikan Kakak atau Namboru dari Pengantin Perempuan yang sudah berkeluarga
  • ULOS HOLONG SIMANDOKKON : Yakni ulas dari saudara laki-laki atau amanguda dari pengantin perempuan
  • ULOS HOLONG TODAAN : Salah seorang keturunan Ompung/Ompu bersaudara dari ayah pengantin perempuan.
  • ULOS HOLONG PAROROT : Salah seorang namboru dari pengantin perempuan atau namboru dari ayah pengantin perempuan atau namboru dari ayah pengantin perempuan

ULOS HOLONG ini juga diberikan Kepada orang selain yang telah disebutkan yaitu :
– Salah Seorang keturunan ayah/ompung bersaudara dari pengantin perempuan
– Ompung suhut (kalau masih hidup)
– Punguan marga
– Tulang dari Pengantin Perempuan
– Ompung Bao (kalau masih hidup)
– Tulang dari ayah pengantin perempuan
– Tulang dari pengantin laki-laki
– Ompung Bao kalu masih hidup
– Tulang dari ayah pengantin laki-laki
– Tulang dari ibu pengantin laki-laki

Ulos-ulos yang telah disebutkan tadi adalah pemberian ulos ketika terjadi pernikahan adat batak, berikut ini adalah ulos yang diberikan diluar pesta adat batak sebagai simbol dan kedudukan seseorang dalam partuturan halak Batak yaitu :

Ulos Antak-Antak, adalah yang dipakai sebagai selendang orang tua untuk melayat atau peritiwa kemalangan, selain itu ulos ini juga sering dipakai sebagai kain yang dililit ketika manortor.
Ulos Bintang Maratur, Ulos ini merupakan Ulos memiliki banyak kegunaannya di dalam adat Batak, ulos ini diberikan sebagai ungkapan syukur atas karunia yang telah diberikan, seringkali diberikan pada peristiwa berikut ini

  • Kepada anak yang memasuki rumah baru. Keberhasilan membangun atau memiliki rumah baru di anggap sebagai salah satu bentuk keberhasilan atau prestasi tersendiri yang tak ternilai harganya. Tingginya penghargaan kepada orang yang telah berhasil membangun dan memiliki rumah baru adalah karena keberhasilan tersebut dianggap sebagai suatu berkat dari Tuhan yang maha Esa yang disertai dengan adanya usaha dan kerja keras yang bersangkutan di dalam menjalani kehidupan.
  • Ulos ini juga diberikan waktu acara selamatan Hamil pada umur kehamilanberusia 7 (tujuh) bulan yang diberikan oleh pihak hula-hula kepada hela dan borunya
  • Ulos ini juga diberikan sering diberikan oleh Oppung kepada Pahompu yang baru lahir sebagai Parompa (gendongan) dan juga di berikan untuk pahompu yang baru mendapat babtisan (tardidi) di gereja

Ulos Bolean, adalah ulos yang digunakan oleh dongan tubu sebagai selendang pada acara-acara kedukaan seperti mangapuli dan manise
Ulos Mangiring, hampir sama ulas bintang maratur namun pemberiannya hanya sebatas kepada anak cucu yang baru lahir terutama anak pertama yang memiliki maksud dan tujuan sekaligus sebagai Simbol besarnya keinginan agar si anak yang lahir baru kelak diiringi kelahiran anak yang seterusnya, Ulos ini juga dapat dipergunakan sebagai Parompa (alat gendong) selendang dan tali-tali,
Ulos Padang Ursa dan Ulos Pinan Lobu-lobu adalah ulos yang kerap dipakai oleh suku Batak sebagai sebagai selendang, fungsinya sebagai nilai estetika yang unik itu sebabnya banyak designer kerap menggunakannya ulos ini sebagai bahan model
Ulos Pinuncaan adalah ulos yang dibuat lima bagian yang ditenun secara terpisah yang kemudian disatukan dengan rapi hingga menjadi bentuk satu ulos. Ulos ini adalah ulos yang paling sering digunakan dalam prosesi adat batak yang digunakan untuk :

  • Di pakai dalam berbagai keperluan acara-acara duka cita maupun suka cita, dalam acara adat ulos ini dipakai/ di sandang oleh Raja-Raja Adat.
  • Di pakai oleh Rakyat Biasa selama memenuhi beberapa pedoman misalnya, pada pesta perkawinan atau upacara adat di pakai oleh suhut sihabolonon/ Hasuhuton (tuan rumah).
  • Kemudian pada waktu pesta besar dalam acara marpaniaran (kelompok istri dari golongan hula-hula), ulos ini juga di pakai/ di lilit sebagai kain/ hohop-hohop oleh keluarga hasuhuton (tuan rumah).
  • Ulos ini juga berfungsi sebagai Ulos Passamot pada acara Perkawinan. Ulos Passamot di berikan oleh Orang tua pengantin perempuan (Hula-hula) kepada ke dua orang tua pengantin dari pihak laki-laki (pangoli). Sebagai pertanda bahwa mereka telah sah menjadi saudara dekat.

Ulos Ragi Hotang, ulos jenis ini adalah ulos yang di berikan kepada sepasang pengantin oleh Hula-hula pada saat pesta adat, ulos ini juga sering disebut sebagai Ulos Hela. Makna Pemberian ulos Hela ini adalah orang tua pengantin perempuan telah menyetujui putrinya di persunting atau diperistri oleh laki-laki yang telah di sebut sebagai “Hela” (menantu). Pemberian ulos ini selalu di sertai dengan pemberian mandar Hela (Kain Sarung Menantu) yang menunjukkan bahwa laki-laki tersebut tidak boleh lagi berperilaku layaknya seorang laki-laki lajang tetapi harus berperilaku sebagai orang tua. Dan sarung tersebut di pakai dan di bawa untuk kegiatan-kegiatan adat, kain sarung ini nantinya digunakan oleh hela tersebut sebagai boru ketika acara adat lainnya berlangsung.
Ulos Ragi Huting, di zaman sekarang Ulos ini jarang digunakan, menurut penuturan orang tua ulos ini digunakan oleh anak perempuan (gadis-gadis) sebagai pakaian sehari-hari yang dililitkan di dada (Hoba-hoba) hal ini untuk menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah seorang putri (gadis perawan) batak yang mengerti adat.
Ulos Sibolang Rasta Pamontari, adalah ulos yang menjadi simbol duka dan suka cita, tetapi pada jaman sekarang, Namun sekarang sering digunakan untuk suasana sering dikenal sebagai Ulos Saput (ulos yang selubungkan pada orang dewasa yang meninggal tapi belum punya cucu). Apabila pada peristiwa duka cita Ulos ini dipergunakan maka hal ini menunjukkan bahwa si pemakai ulos adalah keluarga dekat dari almarhum.
Ulos Si bunga Umbasang dan Ulos Simpar, ulos yang umum digunakan ina-ina dan hanya berfungsi dan di pakai sebagai Selendang tidak ada maksud lain, sebagai penghias diri. Pengunaan ulos ini menandakan bahwa si pemakai adalah orang jauh dan hanya sebatas undangan biasa yang di sebut sebagai Panoropi (yang meramaikan)
Ulos Suri-suri Ganjang adalah ulos yang di pakai sebagai Hande-hande (selendang) pada waktu margondang (menari dengan alunanan musik Batak) dan juga di biasanya ulos ini dipergunakan oleh pihak Hula-hula (orang tua dari pihak istri) untuk manggabei (memberikan berkat) kepada pihak borunya (keturunannya) karena itu disebut juga Ulos gabe-gabe (berkat).
Ulos Simarinjam sisi adalah ulos yang difungsikan sebagai kain dan juga di lengkapi dengan Ulos Pinunca yang di sandang dengan perlengkapan adat Batak sebagai Panjoloani (mendahului di depan). Yang memakai ulos ini adalah satu orang yang berada paling depan, ketika memasuki sebuah acara adat.
Ulos Ragi Pakko dan Ulos Harangan, menurut cerita ulos ini dahulu di pakai sebagai selimut bagi keluarga yang mempunyai harta yang banyak dan berasal dari kalangan berada itulah harga ulos ini paling mahal, dan itu jugalah apabila nanti setelah tua dan meninggal ulos ini akan di saput (di selimutkan, dibentangkan di jasadnya) warna ulos ini adalah hitam seperti warna Pakko.
Ulos Tumtuman, adalah ulos dipakai sering dipakai oleh anak yang menunjukkan bahwa yang memakai ulos ini adalah anak (keturunan) pertama dari hasuhutan (tuan rumah)
Ulos Tutur-Tutur, adalah yang ini dipakai sebagai tali-tali (ikat kepala) dan sebagai Hande-hande (selendang) yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya atau kepada oppung untuk keturunannya

Demikianlah penjelasan berbagai jenis Ulos, benda ini menjadi simbol adat dalam kebudayaan Batak dan akan selalu ada dan menjadi keharusan di setiap acara adat yang dilakukan oleh orang-orang Batak dimanapun mereka berada.

Ulos ini juga merupakan salah satu keunikan tersendiri bagi masyarakat Batak, sehingga diharapkan dengan tulisan ini kita sebagai generasi penerus Bangso Batak dapat menjaga ULOS sebagai baian dari Keunikan pada Masyarakat Batak.

                 “H . O . R . A . S”

About these ads